travelling

Trip in West Java Cuy…


-30 Januari 2010-

Jam telah menunjukkan pukul 05.30 wib, gerimis menyambut awal hari di Kota Kudus pagi ini. Shalat subuh yang agak telat itu akhirnya aku segerakan di mushola kecil di sebuah SPBU di Kota Kudus. Ternyata, selain sebagai tempat sholat, mushola ini berubah fungsi menjadi hotel dadakan para supir truck yang tengah mengisi energinya (alias molor). Setelah shalat, kusempatkan untuk menerawang sekitar. Gerimis masih menghiasi langit Kudus. Di sudut timur langit terlihat sebuah panorama yang sangat cantik dan menawan. Meskipun gerimis, Sunrise pagi ini tetap terlihat sangat indah dan megah. Siluet merah menampilkan corak-corak indah yang bersinergi dengan hijaunya bentangan sawah, membetuk lukisan alam yang luar biasa exotic.

Perjalanan dilanjutkan sambil aku tetap memperhatikan sudut langit yang indah itu sampai lukisan itu benar-benar hilang karena tertutup langit yang semakin mendung. Hujan semakin lebat membuat jalanan penuh dengan air. Di sisi jalan terlihat anak-anak yang berjalan kaki sambil membawa payung. Seragam sekolah mereka tampak basah terkena rintik-rintik air hujan. Kasihan sekali, diantara mereka ada seorang anak putri yang terciprat oleh genangan air yang diterobos oleh mobil yang melaju kencang. Anak itu pasti sangat sedih dan kesal, jadi ingat saat SMP dulu aku juga pernah mengalaminya.

Jam terus berlalu, menit terus berganti, jam telah menunjukkan pukul 7.00 wib, hujan telah berhenti dan akhirnya sampai juga di Pati, Bumi Mina Tani. Jadi ingat sebuah nama yang sepertinya tidak asing. Aha… kamu tahu ? ya.. nama kelompok studi di kampusku ; Klinik Agro Mina Bahari, yang memang bergerakdi sektor Mina-Tani.

Kembali ke Pati. Kita berhenti di sebuah warung makan di depan factory kacang dua kelinci. Kembali aku melihat sesuatu yang unik, ada papan besar bertuliskan “kelinci bertanduk” jadi penasaran ingin melihat seperti apa kelinci bertanduk. Akan tetapi mungkin belum saatnya, langit sepertinya akan kembali menangis membuat kami harus segera melanjutkan perjalanan.

10.32
Aku beranjak ke Jepara. Pemandangan sawahnya sekali lagi uapik buangetz cuy… Jepara Bumi Kartini begitu yang tertulis di atas gapuranya saat aku memasuki kota ini. Awalnya aku heran, kenapa kota ini disebut Bumi Kartini. Kesannya kok, gender banget ya. Berbagai argument muncul begitu saja dipikiranku; dari mulai mengira-ngira mungkin karena bupatinya wanita, atau karena mungkin pendiri kota ini dahulunya seorang wanita, atau mungkin karena di sini lebih banyak wanitanya, sampai pikiran aneh apakah ini merupakan negeri wanita seperti yang ada di sinetron kera sakti yang diperankan Sun-Go-Kong itu ya ? Setelah terus berjalan dan menjumpai sebuah hospital yang bernama RS. R.A. Kartini aku baru tersadar dan teringat kalau pahlawan nasional kita Raden Ajeng Kartini berasal dari Jepara, Pantas saja disebut sebagai Bumi Kartini. jadi ini bukan masalah gender atau emansipasi akhwat. Tetapi lebih sebagai pengingat bahwa kota ini merupakan bumi kelahiran seorang pahlawan nasional R.A. Kartini yang memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia. (Jadi ingat bukunya Asma Karimah.. J)

Satu lagi yang aku suka dari kota ini, di sepanjang jalan utamanya dapat kujumpai Masjid yang Subhanallah megah-megah. Tak kurang setiap ± 30 meter kita dapat temui masjid-masjid tersebut. Desainnya sebagian besar mirip bangunan-bangunan Turki, unik dan artistik.

Dzuhur menjelang, aku sempatkan diri untuk sholat di mushola SMP Negeri 1 Pecangaan. Kembali, memoriku melanglang ke sembilan tahun yang lalu, saat aku masih SMP. Aku teringat dengan mushola SMP ku di Palembang. Sangat persis dengan yang ada di sini. Bentuk dan tata letaknya, bentuknya dua tingkat dengan tempat sholat berada di lantai atas dan lantai bawah tempat belajar dan menginventaris perlengkapan masjid.

Dari lantai atas aku dapat melihat anak-anak SMP Negeri 1Pecangaan yang tengah latihan upacara. Sepertinya mereka akan bertugas sebagai petugas upacara besok senin. Polahnya lucu-lucu, mulai dari gerakan pemimpin pasukan yang kurang kompak, paduan suara yang tak lebih bagus dari orkhestra para pangeran katak, sampai komandan upacara yang suaranya terpeleset saat melapor kepada pembina upacara.

Finishingnya.. I went to Semarang.. wah, bisa lihat laut utara Jawa… pertama kalinya lihat Pelabuhan Tanjung Emas, hmm.. keren. Box-box cargo berjajar. Mirip film Jackie Chan yang judulnya Medallion. Ia melompat-lompat di atas cargo mencari anak kecil sang pemilik medal yang diculik.

Waktu di nokiaku telah menunjukkan pukul 17.00 wib. Mata ini mulai terasa sayu, dan lambat laun seiring datangnya sunset, komputer yang dari pagi terus menyala ini akhirnya hibernate juga. -im-

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s