sastraku

Petualang Rawa (Trailer Version)


Lima sekawan ini tak pernah akur, selalu bertempur. Tiap kali bertemu, pembicaraan yang hadir selalu ngawur dan ngalor ngidul. Dan akhirnya pasti selau diakhiri dengan, lelucon, ‘ejek-ejekan’, dan perang kata-kata.

Yang pertama Pici namanya. Nama aslinya Alfarisi. Ia tinggal tak jauh dari rumahku, Kompleks Perumahan Pakjo. Wajahnya sekilas mirip Raffi Ahmad, badannya tegap, tinggi semampai. Dahulu cita-citanya ingin jadi kepala daerah, sampai-sampai ia gigih untuk berusaha masuk ke STAN. Sayangnya usahanya masuk ke STAN tidak berhasil, kini ia berkuliah di Fakultas Ekonomi di salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang.

Kemudian Adit, ini yang paling ganteng (dalam tanda kutip) diantara semuanya. Kita lebih sering memanggilnya Wakyeng. Panggilan unik untuk orang-orang Palembang tertentu yang aku sendiri kurang tahu artinya. Adit tinggal di daerah Rimba Kemuning. Daerah tempat pemakaman umum yang cukup terkenal di kota Palembang. Adit orang yang casual. Stelannya, dandanannya, gaya jalannya persis bos-bos di pasar ikan. Bajunya selalu dimasukkan rapi, ikat pinggangnya, celananya, sepatunya selalu terlihat necis. Akan tetapi, jadi orang ganteng banyak cobaannya juga loh. Kalau dari kami berlima, Adit itu yang paling sering diganggu sama prisewa (pria setengah wanita).

Selanjutnya ada Cakra, si ikal berkacamata. Rumahnya di daerah Bukit Siguntang. Tempat adanya candi bersejarah peninggalan kerajaan Sriwijaya, Candi Muaro Takus. Anak rantau dari Jambi ini awalnya kelihatan jenius. Kacamatanya tebal minus enam. Kemana-mana selalu membawa tas jinjing yang berisi penuh. Melihat tampilan yang ‘mantap’ ini, pada awalnya teman-teman sekelas menjadikan Cakra sebagai rekomendasi tempat belajar dan ‘contekan’. Tapi ternyata toh Cakra biasa-biasa saja, prestasinya juga ga’ bagus-bagus amat. Maka, beralihlah teman-teman ke siswa yang dianggap pandai lainnya.

Nah ini dia yang juga tergolong pandai, Reza namanya. Kalau di rumah ia dipanggil Edo. Gayanya santai dan ga’ neko-neko. Warna kulit Reza kekuningan seperti warna kulit biji karet bulan. Matanya agak sipit persis mata koh-koh yang berjualan di toko kelontong. Senyumnya lebar, khas senyum Melayu Palembang. Dahulu, Reza lah yang mengajakku masuk Rohis di SMA. Padahal awalnya aku enggan, di rohis aku hanya tertarik dengan Nasyidnya. Tapi berkat dialah kami bersama-sama mengikuti mentoring dan mulai belajar Islam.

Meskipun sederhana dan tergolong anak desa, setelah ditilik prestasi sahabat karibku ini sungguh luar biasa. Ia juara umum di SMP-nya dulu. SMP Arinda (slow down, arinda here) begitu jargonnya. Reza tinggal tak jauh dari sekolah. Nama jalannya, yaitu Jl. Kancil Putih. Kalau dari sekolah, untuk mencapai rumahnya itu kita harus melewati rawa-rawa dan hutan karet.

Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu, tokoh utamanya. Treet…treet…treet… namaku Imam, anak berbakti, rajin mengaji dan penuh mimpi (hwa…terlalu narsis). Ah… sudahlah tidak terlalu penting, biarlah cerita ini yang nanti menunjukkan sifat anak yang satu ini.

Itulah sekilas tentang kelima anggota utama geng anak rawa. Sebenarnya kami punya sekelompok koloni besar anak-anak rawa, tapi kelima orang inilah yang mungkin lebih sering bersama.

Romansa Dialektika

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…“ lantunan merdu suara takmir Masjid Muhajirin menyongsong warna jingga langit yang kian pekat. Tak terasa setelah empat tahun merantau akhirnya aku bisa kembali mengijakkan kaki di tempat bermain masa kecilku dulu. -Di tempat yang, kenakalan, kejahilan, dan ide-ide brilianku diakui, dan pernah kubuktikan serta kuwujudkan dengan penuh rasa bangga.- “Allahu Akbar… Allahu Akbar… Asyhadualla ilaha ilallah, Asyhaduanna Muhammadarrasulullah… Hayya ‘alasshalah… Hayya ‘alal falah… Qadqamatisshalah… Qadqamatisshalah….“

Iqamah teriring menyusul, kembali memanggil untuk mempercepat langkah menyembah Sang Pencipta. Aku segera bergegas mengambil langkah menuju Muhajirin. Jalanan masih sama seperti dulu. Akan tetapi muncul suasana yang terasa asing, sangat berbeda dengan di Yogya. Biasanya saat iqamah terdengar, para jemaah laki-laki berhamburan menuju masjid. Tapi di sini lengang tak ada yang berlalu lalang.

Terkenang kisah hijrahnya kaum Muhajirin dari Mekah ke Madinah, Setelah Rasulullah Salallahualaihi Wasallam berhijrah bersama Abu Bakar Radiallahuanhu, satu per satu kaum muslim Mekkah menyusul untuk berhijrah dari Mekah ke Madinah. Mereka berhijrah secara sembunyi-sembunyi agar aman dari ancaman dan serangan kafir Quraisy.

Sampai di masjid Muhajirin, shalat ternyata sudah dimulai. Segera kuambil wudhu untuk membasuh dosa-dosa yang melekat pada jari-jemari, mulut, hidung, wajah, lengan, rambut, telinga, dan kaki. Biarlah ia mengalir bersama air, dan siklus alam akan menyaringnya menjadi sebuah kesucian.

Tiga rakaat shalat di penghujung senja itu aku jalani. Lantunan surat Sabbihismarabbikal a’la… mengalun lembut merasuki relung-relung kekhusyukan jamaah. KebesaranNya dan KekuasaanNya tak ada yang menandingi. Hanya dialah yang pemilik tempat tertinggi, Allah Azzawajalla.

Kembali ke rumah… Tugas kembali menyambut. Seperti kebanyakan orang yang baru pindah rumah, maka kami pun harus bersih-bersih, menyapu, dan membereskan barang. Ya, kami sekeluarga memang baru pindahan. Tadinya kami tinggal di Majalengka, suatu kota kecil di sebelah timur Jawa Barat. Karena kini masa tugas orang tuaku di sana telah berakhir, maka kami pulang ke tempat asal kami di Kota Palembang.

“Im… mama sama bapak pergi beli makanan sama mau cari gas dulu, titip rumah ya !” ujar ibuku sambil bergegas menuju mobil.

“Ya… eh, Bowo kemana ya ma ? kok belum pulang” tanyaku tentang adikku.

“ Tadi dia kuliah sore, terus habis kuliah katanya mau langsung ke rumah temannya.” sahut ibuku.

Mobil yang dikemudikan bapak perlahan mundur dari garasinya, terus mundur dan mundur hingga ujung belakangnya pas melewati pagar, sedikit berputar kemudian ia berlalu.

Rumah ini kembali sunyi, Kedua adikku juga sedang tidak di rumah. Bowo memang sedang sibuk-sibuknya, maklum jadi mahasiswa baru memang banyak kegiatan. Ia sedang memasuki masa-masa menikmati dunia kampus yang padat aktivitas. Bowo baru masuk menjadi mahasiswa kedokteran gigi Universitas Sriwijaya di penghujung tahun 2009 ini.

Adikku yang bungsu dan yang paling cantik diantara kami bertiga, Gita namanya. Ia juga baru masuk SMA dan untuk satu tahun ini ia tinggal di asrama SMA nya. Atas kebijakan asramanya, ia diperbolehkan pulang tiap akhir pekan saja. SMA Plus Negeri 17 itu nama sekolahnya. Kurang tahu apa artinya kata ‘Plus’ tersebut. Mungkin karena plus asrama, atau memang karena standar pendidikan di sana yang memang plus di banding SMA lainnya.

Tinggal deh aku sendirian di rumah tak berpenghuni ini. kebosanan mengancam, tapi disini ada banyak barang elektronik, perabot, dan macam-macam barang yang semuanya belum dibereskan. Keisenganku yang lama hilang akhirnya muncul juga. Ku buka kardus berisi televisi besar 21 inci yang ada di sudut ruang, lalu coba ku setel biar menyala. Televisinya memang menyala, tapi sayangnya yang muncul hanya gambar ‘semut’ dan ‘semut’. Satu yang akhirnya kusadari bahwa televisi ini tidak memiliki antena. Sel-sel otak kreatifku mulai bekerja, Ada bel rumah, ada kawat jemuran, ada kaki rak lemari besi. Jadilah ketiga barang tersebut kurangkai menjadi sebuah antena televisi yang kemampuannya tak kalah dengan Indovision sekalipun.

Saat tengah asyiknya menonton Opera Van Java, tiba-tiba terdengar deru mesin yang menggeram dipadu suara klakson yang terdengar nyaring. Grmm… tiin… tiin… Awalnya ku kira ibu dan bapak sudah pulang. Akan tetapi setelah kudengar dengan seksama, suara klaksonnya sedikit berbeda. Yang ini terdengar lebih nyaring.

Sebelum keluar dan membukakan pintu, kulihat terlebih dahulu siapa yang berada di luar sana dari balik tirai jendela. Sebuah mobil mini jeep Katana warna cokelat muda. Dari dalamnya keluar empat orang yang sepertinya aku tak asing dengannya. Segera kubukakan pintu untuk menyambut mereka.

Wooi… mam, sombong nian kau, apo kabar ha ?” sahut salah seorang dari mereka. Tebakanku itu wakyeng alias Adit, dia berubah jadi tambah tinggi, lebih tinggi dari Pici yang ada disampingnya.

Kaget dan senang terlintas dibatinku, akhirnya bisa juga bertemu lagi dengan anak-anak gila ini. Sekejap romansa dialektika yang tersimpan lama kembali muncul. Logat palembangku ternyata tidak benar-benar hilang.

Ahahahai, baek mangcek… la lamo dak nyingok kamu-kamu ni, payo masuk dulu.” –Kabar baik mangcek, sudah lama tidak melihat kalian semua, ayo masuk dulu– ujarku sambil mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu.

Ruangan yang tadinya sunyi ini kini hidup dengan perbincangan nostalgia kelima anak manusia ini.

Cakmano kabar kau mam ?” –apa kabarmu mam ?– Reza mengawali percakapan dalam perbincangan itu.

Yo cak inilah, masih samo cak dulu… cuma tambah ganteng bae ?” kelakar khas Palembang yang biasa digunakan tiap pertanyaan awal itu akhirnya ku keluarkan juga.

Ai cacam, tambah pakam bae kau, kau sekarang di Jogja yo mam ?” sambung Pici.

Yah.. begitulah nasib seorang perantau, ketika pulang dihujani berjuta pertanyaan, dan semuanya kujawab dengan perasaan senang dan bangga. Senang karena berjumpa mereka dan bangga bisa menjadi bagian dari mereka.

Banyak perubahan dan perkembangan yang belum ku tahu ternyata, Pici sekarang sudah bisa bawa mobil dan jadi jasa antar jemput teman-temannya, Cakra kuliah di Fakultas Hukum UNSRI dan ukuran minus di kacamata bertambah, Adit kuliah di Fakultas Ekonomi dan sekarang tidak lagi diganggu oleh prisewa, dan Reza memang tidak kuliah, tapi kini tambah setia hadir ke pengajian-pengajian.

Perbincangan itu mengalir begitu saja, mulai dari hulu sampai ke hilir. Hingga kami sadari bahwa waktu isya’ telah tiba.

“Eh…sudah isya’, payo kito ka mesjid !” ajak Reza.

Jika ingat kisah waktu SMA dulu kami semua bisa dibilang ‘berandal’ dan sedikit ‘bengal’ tapi yang jelas untuk waktu kami tidak pernah meninggalkannya. Maka berangkatlah kami berlima ke Masjid Muhajirin.

Perjalanan yang singkat tapi sarat makna, tiap langkah menuju masjid kami lalui dengan nostalgia. Cerita-cerita gila, lucu, konyol, sampai asmara masa SMA tak lepas dari bahasannya. Terkesan kampungan memang, tapi benar, kami memang anak kampung yang tinggal di kota.

Karena asyiknya bercerita sampai-sampai kami tidak sadar bahwa jalan yang kami lalui untuk ke masjid berbeda dari yang biasanya. Jalan yang ini lebih jauh, lebih memutar. Tapi tak masalah, berarti semakin panjang waktu kami untuk lebih lama mengenang masa muda.

Sebentar lagi sampai di depan gerbang masjid. Tiba-tiba, tak jauh dari jarak pandang lima meter di depan kami tampak sepasang mata yang menyalatkan kebenciannya. Jari-jemari dengan kuku yang tajam itu mencengkram erat siap untuk menghajar kami semua, taringnya liar siap menerkam.

“Ghrr……guk….guk… ghrr…. guk….guk…” suaranya menggelegar memecah kesunyian.

Spontan (uhuy..), tanpa berpikir panjang kami ‘tancap gas’ hingga akhirnya kami tiba di masjid. Iqamah dikumandangkan dan shalat isya segera dimulai, tapi kami kelelahan, Reza dan Cakra terengah-engah sambil mengusap air yang mengucur dari keningnya, Adit yang juga lelah sibuk membetulkan sisiran rambutnya yang acak-acakan karena habis berlari kencang, Pici dan aku duduk menggelepar sambil satu-dua menghela nafas, mengalirkan udara perlahan-lahan agar bronchus terasa nyaman.

Segera kami berwudhu untuk memulihkan keadaan. Dalam tiap basuh air yang menyentuh kulit, sebuah perenungan hadir. Mungkin itu pengingat bagi kami semua agar tidak memperbincangkan hal-hal tak berguna saat waktu shalat tiba.

Kedua kalinya kami dikejar oleh makhluk yang berwujud sama. Dahulu ketika SMA pun begitu, saat kami selesai berbuat kenakalan yang naudzubillah, Allah mengutusnya untuk mengingatkan. -im-


dikutip dari

“Catatan Memoir Perjalanan”

Media KMMP 2009

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s