berita · curhat

Pengungsi Maguwoharjo, 5 November 2010


awan kelam pun menggumpal meninggi,
payungi indahnya khatulistiwa…
namun hanya kegelapan yang hadir,
membawa kedukaan tak jua reda…

Sudah dua hari berlalu sejak meletusnya gunung teraktif di Indonesia. Jumlah pengungsi yang memenuhi tempat-tempat pengungsian di Sleman kian bertambah. Keadaan mereka sangat memprihatinkan, mereka harus rela tinggal bertumpuk-tumpuk bersama beribu pengungsi lainnya dan tidur hanya beralaskan lantai yang dingin, bahkan di kabarkan oleh seorang temanku, ada beberapa keluarga yang harus rela tidur di jalan raya karena tempat pengungsian penuh.

Stadion Maguwoharjo (5 nov 10), Ini kali keduanya aku berkunjung ke stadion ini, pertama kali tahun 2007 saat stadion ini baru di bangun. Stadion utama PSS Sleman ini menjadi tempat pengungsian terbesar di kota Sleman, kurang lebih 53.251 pengungsi berada di sini. secara umum kondisi penanganan pengungsi oleh relawan di stadion maguwoharjo sudah cukup baik, pelayanan kesehatan dan psikolog cukup sigap, serta jumlah makanan yang ada di stadion malah terlihat berlebih. Akan tetapi, kondisi ini tidak diimbangi dengan ketersedian sarana MCK yang baik, akibat jumlah pengungsi membeludak tidak mampu diimbangi oleh jumlah kamar mandi yang hanya 64 di stadion ini.

Ketersediaan tempat ibadah pun menjadi sulit, tempat ibadah yang telah disediakan di dalam stadion turut menjadi tempat warga meletakkan barangnya dan beristirahat. Untunglah teman-teman dari Jamaah Sholahudin UGM, FSLDIK, dan HTI sigap membantu membangun masjid darurat di lapangan kosong yang berada di dekat stadion. untuk sholat Jum’at para pengungsi. Setelah selesai sholat jum’at masjid beratap pun segera di bangun. Alhasil setelah tiga jam dibangun akhirnya masjid yang terbuat dari terpal dan tenda militer berukuran dua kali kamar kost ku itu berdiri tegak.

dan sore itu diakhiri dengan hujan deras yang mengguyur bumi hingga debu-debu pun terjatuh…

One thought on “Pengungsi Maguwoharjo, 5 November 2010

  1. Saya yang di Banyumas saja merasakan beratnya hidup ditengah-tegah abu, mata pedih, nafas sesak kulit gatal. Apalagi rekan-rekan disekitar merapi.
    kami turut berduka mas, semoga cobaan ini cepat berlalu dan kita selalu tabah menjalaninya

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s