resensi

Amor Vincit Omnia


Pernah mendengar kisah Romeo dan Juliet ? sebuah kisah cinta yang termashur sepanjang zaman karangan William Shakespeare. Ia mengumpamakan cinta antara Romeo dan Juliet bagaikan luh yang mengalir, berderai, jerih, dan badai. Kisah cinta keduanya menjadi duka yang mengiris pedih di saat-saat berpisah. Cinta mereka menjadi gulana ketika menyadari dua keluarga mereka masih senantiasa bertikai dan bermusuhan. Rindu mereka menguruskan tubuh dan menguras air mata. Hingga tiba klimaksnya, Romeo menenggak racun di hadapan Juliet yang pura-pura mati. Dan begitu ia bangun, Juliet segera mencium mesra bibir Romeo yang belepotan racun. Itulah akhir kisah cinta ini.

Amor vincit omnia bahasa Perancisnya, Love qonquers all bahasa Inggrisnya, maka kita terjemahkan “Cinta menaklukkan segalanya.” Kalimat syahdu ini biasanya selalu mengalun dari mereka yang merasa cintanya kuat hingga mampu menabrak karang. Di sini cinta menjadi sang penakluk. Yang ditaklukkan bukan hanya gunung untuk didaki atau lautan untuk diseberangi. Lebih dari itu, seringkali jiwalah yang takluk.

Ketika jiwa takluk, maka semua anggota tubuh akan menarikan ke-cengeng-an dalam irisan musik melankolik. Mungkin gunung tertinggi mampu di daki dan lautan luas terseberangi. Tapi jiwa yang takluk oleh cinta itu takkan mampu menghadapi jiwa manusia lain yang lebih perkasa. Jiwa Romeo telah mengkanak-kanak, maka ia tampak bodoh di hadapan Count Paris, rival beratnya. Maka ia tak berdaya di hadapan tuan besar Capulet, Maka ia mengecewakan Pastor Lorenzo dengan keputusasaannya. Akhir cerita dari jiwa yang takluk oleh cinta tak akan jauh dari kata-kata Ti Pat Kai saudara seperjuangan Sun Go Kong Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir.” Cinta yang hanya menderitakan.

Gangguan jiwa ala Romeo tersebut dari mana asalnya ? menurut pandangan psikologi Ustadz Faudzil ‘Adhim : “Gangguan jiwa tidak datang secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses hidup yang panjang.”

Apa yang kita lihat sebagai penyebab biasanya hanyalah peristiwa pemicu. Yang sebenarnya adalah orang dengan keadaan jiwa yang rapuh, jiwa yang telah retak, lalu sebuah peristiwa menyentak menjadikannya berkeping-eping, takluk dan butuh pertolongan. Pada Romeo inilah jiwa yang rapuh itu: jiwa yang takluk pada cinta.

Jiwa yang takluk oleh cinta awalnya menjadikan cinta sebagai basic dari semua tindakan. “Atas nama cinta” begitu ujarnya. Setelah melewati batas tertentu ia akan menjadi penyembah cinta. Mereka menjadikan cinta sebagai tuhan. Nizami Ganjavi menggambarkan kisah cinta Layla dan Majnun yang terbelenggu cinta : “Matahari seakan diciptakan karena cinta, rembulan juga bercahaya karena cinta, dan bila tak ada cinata mustahil air laut mencapai pantai.” Naudzubillah, Bukankah ini suatu kebodohan ? Dalam film Kiamat Sudah Dekat, Dedy Mizwar berpesan untuk para pendewa cinta, “Cinta itu kan berhala yang lu sembah-sembah !”

Allah mengkaruniakan kepada kita kemampuan untuk memilih dalam kehidupan ini. Allah mengilhamkan kedalam jiwa kita jalan takwa dan jalan durhaka. Tak terkecuali dalam cinta. Selalu ada ruang antara rangsangan dan tanggapan, dan disanalah terletak pilihan-pilihan. Siapa yang hendak beriman silahkan ia beriman, dan siapa yang ingin kafir silahkan ia kufur. Bukankah ini sangat demokratis ? Allah memberikan kebebasan untuk memilih. Dan Ia pun memuji dan menjanji keindahan bagi mereka yang berhasil memilih.

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan mencegah diri dari hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.” (QS : AnNaazi’aat : 40-41).

Dalam ayat ini, para penakluk hawa nafsu lah yang Allah janjikan kemuliaan surga. Hawa nafsu, adakah hubungannya dengan cinta ? Ooo.. tentunya dekat sekali. Dalam Surat Ali Imran : 14 kata Asy syahawat (Syahwat) disbanding lekatkan dengan kata Hubb’ (Cinta). Dalam cinta ada dorongan untuk menikmati keindahan, rasa nikmat, kesenangan, dan kebahagiaan. “Love is sweet torment.. Cinta adalah siksaan yang manis. Seperti kata Maria dalam Novel Ayat-Ayat Cinta. Maka dalam cinta ada saat menikmati kesengsaraan, galau, dan kesedihan. Pada umumnya baik bahagia maupun duka, keduanya kita sebut dengan Emosi. Dan dalam perspektif Qur’ani sudah selayaknya kita menaklukkan emosi, Menaklukkan hawa nafsu. Mampukah kita ??

Sebagai seorang pejuang yang senantiasa beraktivitas dalam Jalan Cinta Hakiki, Jalan Cinta Para Pejuang, cinta bukanlah sang penakluk, karena cinta tak boleh menaklukkan kita. Karena kitalah yang akan menaklukkan cinta.

Inspired by: Salim Al Fillah – Jalan Cinta Para Pejuang

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s