curhat · motivasi

Belajar Dari Hachiko : Tentang Sebuah Kesetiaan


Hachiko, pernahkah kau mendengar nama itu akhina ? Itu adalah nama seekor anjing yang sangat setia menunggu kedatangan tuannya hingga akhir hayatnya. Sampai akhirnya ia menutup mata untuk terakhir kalinya di tengah dinginnya salju yang menyelimuti Jepang.

Oleh pemerintah Jepang, kesetiaan Hachiko ini kemudian diabadikan menjadi sebuah monumen Hachiko yang didirikan tepat dimana Hachiko terakhir kali berdiri sebelum akhirnya berpulang ke rahmatullah.

Hachiko memang hanya seekor anjing, tapi ia telah mencontohkan kepada kita kesetiaan yang luar biasa. Kesetiaan yang muncul karena adanya suatu ikatan yang ia rasakan. Kesetiaan yang tulus dari naluri seekor anjing.

Akan tetapi, ini tentang kita akhina. Kita bukan Hachiko, dan kita pun bukan anjing. Tapi, tak ada salahnya kita belajar dari Hachiko. Sekalian mengintropeksi diri kita, sudah pantaskah diri kita disebut manusia. Tak banyak dari kita yang peduli tentang hal yang satu ini. Tentang sebuah kata yang sederhana, tapi dalam penuh makna. KESETIAAN…

Hari itu, agendaku sangat padat sampai-sampai aku sendiri lupa jadwal kegiatanku. Salahnya pada saat itu aku tidak mencatat agendaku, padahal biasanya aku selalu mencatat. Seorang teman meminta tolong padaku untuk membantu penelitiannya esok pagi. Sebenarnya dalam hatiku sudah ada sesuatu yang mengganjal entah prasangka-prasangka apa yang menggangguku itu. Tapi kuiyakan saja.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali aku baru ingat kalau ada pertemuan dengan rekan-rekan yang sangat penting karena aku ketuanya. Baiklah pertemuan itu ditargetkan jam 7 sudah selesai. Sesampai di rumah aku baru ingat kalau ada janji untuk menemani temanku yang penelitian. Maka dengan bergegas aku pun segera ke rumahnya dan menanyakan padanya. Saat tiba dirumahnya entah kenapa raut wajahnya menurutku sangat tidak bersahabat (entah memang dia marah padaku karena keterlambatanku atau hanya prasangka-prasangkaku saja). Aku tanyakan padanya apakah jadi mau memakai motorku ? tapi dia menjawab tidak usah, dan segera berlalu ke kamar mandi. Aku jadi heran padahal kemarin ia bilang bahwa mau pakai motorku saja karena motornya agak bermasalah.

Sejenak kemudian dosenku meng-SMS untuk segera menemuinya pagi itu, tak kuduga ini menjadi masalah baru. Di tengah ketidakjelasan suasana, aku segera pergi meninggalkan rumahnya tanpa ijin dan bergegas menemui dosenku.

Kekecewaan pun timbul, akhirnya diapun pergi sendirian dan hanya meninggalkanku pesan berisi nasehat. Aku yang waktu itu bingung dan mungkin terbawa ego, tidak mau kalah, dengan membalas menasehati lewat pesan singkat juga.

Kemudian, aku menyadari bahwa ada sebuah kesalahan fatal yang telah ku perbuat. Aku telah menyia-nyiakan kesetiaan dan kepercayaan (trust) yang temanku berikan padaku.

Sobat, mungkin kau pernah mengalami hal yang serupa, entah apakah kau sebagai tersangkanya maupun korbannya. Sungguh ketika kita telah menyia-nyiakan kesetiaan kita terhadap teman apapun alasannya akan timbul prasangka-prasangka (dzon) yang tidak baik antara kedua pihak. Maka segeralah meminta maaf dan berbenah diri…

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s