motivasi

Dinamika Kepribadian


Lagi iseng mengutek-ngutek eh, ketemu tulisan, dah lamaaa banget… ternyata punya Asri. ijin share deh… ^_^

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia, fujur (kefasikan) dan takwa (beriman dan beramal shaleh).” (QS. Asy Syams: 8).

Ayat diatas menunjukkan bahwa manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan dengan suasana perjuangan untuk memilih alternatif antara haq (takwa dan kebenaran) dengan yang batil ( fujur).

Manusia memang bukan malaikat, yang selamanya istiqomah dalam kebenaran ( At Tahrim : 6). Manusia juga bukan setan, yang selamanya dalam kebatilan, kekufuran, maupun kemaksiatan. Manusia adalah makhluk yang netral. Kepribadiannya bisa berkembang, bisa seperti malaikat, bisa juga seperti setan. Hal ini sesuai dengan pilihannya. Apakah ia akan mengisi jiwa dan kalbunya dengan ketakwaan atau dengan fujur. Apabila yang dipilihnya adalah ketakwaan, kalbu (perpaduan antara akal dan rasa) akan menggerakkannya untuk berperilaku yang bermakna dan berpribadi mulia. Tetapi apabila yang dipilihnya adalah fujur, maka dia akan berkepribadian mufsid (pembuat onar) dan biang kemaksiatan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Allah berfirman dalam surat Asy Syams : 9-10, yang artinya. “Sungguh berbahagialah orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugilah (celakalah) orang yang mengotorinya.”

Kata “mensucikan” dan “mengotori”, keduanya ialah kata kerja yang menunjukkan keperilakuan manusia. Hal ini menunjukkan juga bahwa manusia telah diberi kemampuan untuk mengambil keputusan dan melakukan keputusannya itu dengan segala resikonya.

Manusia akan mengalami konflik psikis, manakala dia tidak mengambil keputusan, membiarkan jiwanya terkurung (terbelenggu) oleh keraguan antara mengambil kebenaran (komitmen pada yang haq) dengan mengambil yang salah (menuruti hawa nafsu).

Bagi mereka yang berkomitmen pada kebenaran, meski harus menempuh perjuangan hidup yang sulit, akan membuatnya berkembang menjadi manusia yang berkepribadian mantap. Inilah orang yang dijelaskan khusus oleh Allah SWT dalam QS. Al Fajr : 27-30.

“Hai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang lapang lagi di ridhoi-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Written by : Asri

Source : Teori Kepribadian (Syamsu Yusuf)


jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s