berita · motivasi

Ustadz Sabun dari Ujung Timur Indonesia (1)


Ini adalah cerita tentang berkembangnya dakwah Islam di bumi paling timur Indonesia, Nuu Waar atau lebih kita kenal dengan nama Papua. Islam adalah agama pertama yang menyentuh pulau paling timur Indonesia itu. Pelayaran Kerajaan Islam Samudra Pasai telah sampai membawa Islam berabad lamanya tiba di pulau itu. Namun semenjak zaman penjajahan, kaum nasrani masuk ke Nuu Waar dan menyebarkan ajarannya tersebut.

Akan tetapi, Islam tidak hilang begitu saja, Islam masih ada dan kini mulai menyebar dan semakin menguat dari tahun ke tahun di Nuu Waar. Banyak tokoh-tokoh ulama dan ustadz asli Papua yang senantiasi berjuang untuk terus menghidupkan Islam di negeri cendrawasih ini, salah satunya ialah Ustadz Sabun.

Fadhlan namanya, ia asli putra daerah provinsi Papua, tepatnya di kota Jayapura. Wajahnya hitam manis, rambutnya keriting kecil-kecil dan mengembang khas Papua. Saat muda belia ia pergi merantau menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi sebuah perguruan tinggi di Makassar, Sulawesi Selatan. Dari sinilah penokohannya, perjalanan, dan perjuangan dakwahnya bermula.

Di hari pertama Fadhlan masuk mengambil kelas mata kuliah Pendidikan Agama Islam, sebuah peristiwa terjadi. Saat itu Fadhlan yang memang semangat untuk belajar Agama Islam memilih bangku paling depan untuk memperhatikan penjelasan dosen. Pada saat itu semua orang menatapnya dengan pandangan yang tidak mengenakkan termasuk dosennya.
kenapa ada orang aneh di sini ?” mungkin itu fikir mereka.
Tapi biarlah, Fadlan tetap cuek dan duduk di bangku terdepan. Sebelum memulai mata kuliah dosen menyampaikan sesuatu hal.
” Hari ini kita akan belajar tentang pendidikan Agama Islam. Yang tidak beragama Islam silahkan meninggalkan ruangan !!” Sang dosen berbicara dengan keras sambil menatap Fadhlan. Fadhlan merasa heran, tetapi karena Fadhlan seorang muslim ia tetap diam dan duduk dengan tenang. Tiba-tiba sang dosen datang mendekati, menunjuk dan berteriak di depan Fadhlan. “Kamu, silakan keluar !!”.

Fadhlan yang terkejut dan merasa dilecehkan segera berdiri di depan sang dosen dan menantangnya. “Sebelum saya meninggalkan ruangan, saya punya beberapa pertanyaan untuk bapak !” ujar Fadhlan. Baiklah.” jawab sang dosen. “Yang pertama, apakah agama Islam hanya untuk orang Bugis saja ?” “tidak.” jawab sang dosen.

“Yang kedua, bukankah seorang muslim itu harus bisa mengaji ? saya ingin mendengar kalian semua yang ada di kelas ini untuk mengaji.” Sang dosen menyepakati, maka segenap mahasiswa diberikan Al Qur’an dan diberikan kesempatan untuk mengaji termasuk Fadhlan meskipun dia mendapat giliran terakhir. Namun, ternyata saat sang dosen mengecek dari 47 mahasiswa yang ada di kelas itu hanya ada 7 mahasiswa yang mengajinya benar dan lancar termasuk Fadhlan. Melihat hal ini sang dosen mulai malu dan tak berkutik di hadapan Fadhlan.

“Yang ketiga saya minta waktu untuk menyampaikan sesuatu kepada teman-teman.” Sang dosen yang sudah terlanjur malu menyetujuinya dan membiarkan Fadhlan berbicara.

Tak terasa ternyata dua jam telah dihabiskan oleh Fadhlan untuk berbicara tentang Islam di depan forum teman-teman mahasiswanya. Semua terhipnotis dengan cara penyampaian yang Fadhlan gunakan termasuk sang dosen yang tak menyetopnya saat “berceramah”. Setelah Fadhlan selesai bicara dia undur diri untuk meninggalkan ruangan kelas. Tetapi sebelum ia melangkahkan kakinya keluar pintu. Sang dosen menyetopnya dan langsung berbicara di depan kelas.

“Hari ini kuliah pendidikan Agama Islam kita cukupkan saja, tadi kita telah mendengarkan kuliah umum dari ustadz asal Papua.” Selanjutnya sang dosen pun meminta maaf dan menyalami Fadhlan diikuti oleh teman-teman sekelasnya.

-to be continue…-

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s