motivasi

Mengambil Ibrah dari Ka’ab bin Malik


Alangkah banyaknya kuhabiskan waktuku pagi dan petang
untuk perbuatan yang tak berarti
Padahal pada saat itu kain kafanku sedang ditenun
tanpa kusadari…


Saudaraku para pengusung kebaikan…
mungkin kita bisa mengambil hikmah dari kisah sahabat Nabi yang satu ini.
Sahabat nabi itu bernama Ka’ab bin Malik.


Ada sesuatu yang aneh dirasakan Ka’ab bin Malik.
Entah kenapa, sahabat yang begitu dekat dengan Rasul ini merasa enggan untuk segera berangkat bersama yang lain menuju Tabuk.
Padahal, hampir tak seorang pun yang luput dari perang besar ini. Semuanya siap ikut. Paling tidak, memberikan sumbangan yang mereka punya.


Lalu, ada apa dengan Ka’ab?
Selama ini, hampir tak satu pun peluang jihad di sia-siakan Ka’ab.
Tapi di Tabuk ini, ia merasa kalau ladang gandumnya yang sedikit lagi panen benar-benar menyibukkannya. Ah, nanti saja. Nanti saja, akan saya kejar rombongan Rasul itu.
Nanti, dan nanti.


Akhirnya, Ka’ab benar-benar tertinggal hingga peperangan yang memakan waktu sekitar satu setengah bulan itu berakhir.
Dan apa yang dilakukan Rasulullah saat ia pulang dari pertempuran dan bertemu Ka’ab ?
bahkan ketika Ka’ab telah jujur mengungkapkan bahwa ia tak punya uzur sama sekali.
Rasulullah tak memaafkannya, Ia membiarkannya dan tak menegurnya hingga 50 hari lamanya, sampai seluruh penduduk Madinah pun melakukan hal yang sama.
Meskipun begitu ia tetap bertahan pada imannya, menjaga dirinya, dan menyesali perbuatannya.


Saudaraku, apa yang kau rasakan jika menjadi Ka’ab, diacuhkan oleh manusia paling mulia Rasulullah SAW ?
Padahal Ka’ab merupakan sahabat yang sangat dekat dengannya dan juga dijamin masuk surga, berbeda jauh dengan kita.


Secara sadar atau pun tidak kita pun mungkin pernah melakukan hal yang sama dengan Ka’ab.
Kita menghindar dan lalai dari tugas da’wah bahkan menghindar dari jamaah, karena hal-hal lainnya. Semangat untuk aktif tiba-tiba mengendur, dan keasyikan pun muncul saat diri cuma jadi penonton.
Bahkan ketika ditanya kenapa tidak berangkat, kita malah mencari-cari alasan yang dibuat syar’i agar dapat dimaklumi. padahal Allah telah berfirman dalam surat At Taubah ; 41.


“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”


Bahkan Rasulullah pun mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berjamaah dalam setiap agenda da’wah meski itu sulit, terjal, dan penuh marabahaya. Begitupun sepertihalnya saat Rasulullah tidak suka terhadap sikap menyendiri Ka’ab bin Malik saat mendapat seruan perang tabuk.


Saudaraku, mari kita lihat dalam diri kita, kembali ketujuan awal hidup kita sebagai manusia. Yang menjadi duta-duta pembawa sunah mulia, rahmat bagi semesta alam…


Semoga ana dan antum semua sadar !!

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s