event

Urgensi Khitan


Hari ini, adik sepupu Im, Muhammad Bagus Sajiwo kelas 5 naik kelas 6 SD di khitan di juru supit Bogem, Prambanan. Proses penyupitannya sangat cepat dan sigap. Sebelum dimulai sang adik diminta untuk membaca doa dan surat Al Fatihah, Ia pun terlihat tenang, bahkan setelah keluar ruangan ia juga tak merasakan sakit yang berarti. Ia tetap asik bermain dengan gamepad PSP yang dipegangnya.
Ngomong-ngomong soal khitan, jadi teringat masa lalu ketika masih SD 15 tahun yang lalu. Waktu itu Im ga’ khitan di juru supit, tapi sama dokter yang juga saudara. meskipun begitu kesannya tetap horor dan bikin Im teriak-teriak karena kesakitan.
Setiap laki-laki pasti punya cerita yang berbeda tentang pengalaman khitannya.
hmm… kenapa sih perlu di khitan ??

Rasulullah saw pernah bersabda,

”Barang siapa masuk Islam, hendaklah ia berkhitan walaupun sudah dewasa.”
Khitan merupakan ajuran Rasullullah saw. Didalamnya terkandung hikmah-hikmah tertentu yang mungkin masih belum terungkap nilai manfaatnya secara menyeluruh dan utuh. Dengan demikian, berbagai dugaan bisa saja muncul. Berbagai penelitian masih mungkin untuk dilakukan.

Dalam hubungannya dengan kesempurnaan ibadah, terutama shalat, urgensi khitan amat jelas. Shalat secara lahiriyah berhubungan dengan kebersihan jasmani. Untuk menunaikan shalat disyari’atkan agar tubuh dan pakaian yang dikenakan harus bersih dan suci dari hadast, karenanya sebelum sholat diwajibkan untuk berwudhu. Berwudhu membersihkan mensucikan dari hadast kecil, sebelumnya sangat dianjurkan untuk membersihkan kemaluan dan dubur terutama setelah berhajat kecil dan hajat besar. Seseorang yang sudah dikhitan akan lebih mudah membersihkan dari hadast kecil.

Khitan secara bahasa artinya memotong. Secara terminologis artinya memotong kulit yang menutupi alat kelamin lelaki (penis). Dalam bahasa Arab khitan juga digunakan sebagai nama lain alat kelamin lelaki dan perempuan seperti dalam hadist yang mengatakan “Apabila terjadi pertemuan dua khitan, maka telah wajib mandi” (H.R. Muslim, Tirmidzi).

Dalam agama Islam, khitan merupakan salah satu media pensucian diri dan bukti ketundukan kita kepada ajaran agama. Dalam hadist Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kesucian (fitrah) itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memendekkan kumis dan memotong kuku” (H.R. Bukhari Muslim).

Dalam fikih Islam, hukum khitan dibedakan antara untuk lelaki dan perempuan. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum khitan baik untuk lelaki maupun perempuan. Hukum khitan untuk lelaki menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah wajib. Para pendukung pendapat ini adalah Imam Syafi’i, Ahmad, dan sebagian pengikut Imam Malik. Imam Hanafi mengatakan khitan wajib tetapi tidak fardlu.

Menurut riwayat populer dari Imam Malik beliau mengatakan khitan hukumnya sunnah. Begitu juga riwayat dari Imam Hanafi dan Hasan al-Basri mengatakan sunnah. Namun bagi imam Malik, sunnah kalau ditinggalkan berdosa, karena menurut madzhab Maliki sunnah adalah antara fardlu dan nadb. Ibnu Abi Musa dari ulama Hanbali juga mengatakan sunnah muakkadah. Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mughni mengatakan bahwa khitan bagi lelaki hukumnya wajib dan kemuliaan bagi perempuan.


Dalam buku Hayatunal Jinsiyah (Kehidupan Biologos Kita) Dr. Sabri al-Qubbani mencoba mengangkat masalah khitan beserta segala hal disekitarnya. Dia mengatakan khitan merupakan peraturan kesehatan yang faedahnya sangt besar. Yakni menghindarkan pelakunya dari berbagai penyakit dan ganguan kesehatan lainnya :

Pertama : Dengan memotong Qulfah atau kulup seorang anak, ia akan terbebas dari endapan yang mnegandung lemak, dan lendir-lendir yang sangat kotor. Ini dapat menekan serendah mungkin terjadinya peradangan pada kemaluan, dan proses pembusukan yang diakibatkan oleh endapan lendir-lendir tersebut.

Kedua: Dengan terpotongnya Qulfah, batang kemaluan akan bebas dari kekangan semasa terjadi ketegangan (ereksi)

Ketiga : Dengan khitan kemungkinan terserang penyakit kanker sangat kecil. Realitas menunjukan penyakit kanker penis ternyata banyak diderita oleh orang yang tidak di khitan. Dan jarang sekali

menimpa bangsa-bangsa yang syariat agamanya memerintahkan agar pemeluknya berkhitan.

Keempat : Bila secepatnya mengkhitan sang anak, berarti kita telah menghindarkan dari kebiasaan ngompol di tempat tidur. Penyebab utama anak mengompol ditempat tidur pada malam hari karena qulfahnya terasa gatal dan keruh (tergelitik).

So, buat bocah-bocah yang sekarang belum di khitan, yuk minta ke ayah, ibu agar segera di khitan…. ^__^
Wallahua’lam.
sumber :

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s