kontemplasi · resensi

Demikianlah: Telah Kami Jadikan Kamu Umat yang Adil Dan Pilihan (La Tahzan Series Part 1)


Adil merupakan tuntunan akal serta syariat, Keadilan adalah tidak berlebih-lebihan, tidak melampaui batas, tidak memboros-boroskan, dan tidak menghambur-hamburkan. Maka siapapun yang menginginkan kebahagian, ia harus senantiasa mengendalikan setiap perasaan dan keinginannya. Ia harus bersikap adil dalam kerelaan dan kemurkaannya, juga adil dalam kegembiraan dan kesedihannya. Betapa pun, tindakan melampaui batas dalam menyikapi segala peristiwa merupakan wujud kezaliman kita terhadap diri kita sendiri.

Duhai sobat, betapa indahnya keadilan itu ! Betapa tidak, syariah senantiasa ditetapkan dengan prinsip keadilan. Demikian pula dengan kehidupan ini, ia pun berjalan dengan konsep keadilan pula. Manusia yang paling sengsara adalah mereka yang menjalani kehidupan ini dengan memperturutkan hawa nafsu dan menuruti setiap dorongan emosi serta keinginan hatinya. Pada kondisi yang demikian itu, manusia akan merasa setiap peristiwa menjadi sedemikian berat dan sangat membebani, seluruh sudut kehidupan ini menjadi semakin gelap gulita, dan kebencian, kedengkian, serta dendam kesumat pun mudah bergolak di dalam hatinya.

Akibatnya, semua itu membuat seseorang hidup dalam dunia khayalan dan ilusi. Ia akan memandang setiap hal di dunia ini musuhnya, ia menjadi mudah curiga dan merasa orang di sekelilingnya sedang berusaha menyingkirkan dirinya. Dan tentunya ia akan selalu dibayangi rasa was-was dan kekhawatiran bahwa dunia ini setiap saat akan merenggut kebahagiannya. Demikianlah, maka orang yang seperti ini akan senantiasa merasa hidup di bawah naungan awan hitam kecemasan, kegelisahan, dan kegundahan.

Menyebarkan desas-desus yang dapat menggelisahkan hati orang lain sangat dilarang oleh syariat dan termasuk tindakan murahan. Dan itu, hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang miskin nilai moraldan jauh dari ajaran-ajaran ketuhanan. Begitulah, maka

“Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh yang sebenarnya.” (Al Munafiqun : 4).

Dudukanlah hati anda pada kursinya, niscaya kebanyakan hal yang dikhawatirkan tak akan pernah terjadi. Dan sebelum sesuatu yang anda cemaskan benar-benar terjadi, perkirakan saja apa yang paling buruk darinya, danselanjutnya persiapkan diri anda untuk menghadapinya dengan tenang hati. Dengan begitu, anda akan dapat menghindari semua bayangan-bayangan menakutkan yang acapkali telah mencabik-cabik hati sebelum semua terjadi.

Wahai orang yang berakal dan sadar, tempatkanlah segala sesuatu itu sesuai dengan ukurannya. Jangan membesar-besarkan peristiwa dan masalah yang ada. Bersikaplah adil, secara seimbang, dan jangan berlebihan ! Jangan pula larut dalam bayang-bayang semu dan fatamorgana yang menipu !

Camkanlah makna keseimbangan antara kecintaan dan kebencian, seperti yang diajarkan dalam hadist Rasulullah SAW “Cintailah orang yang anda cintai sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti dia bisa menjadi musuhmu. Dan,bencilah musuhmu sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti dia menjadi orang yang anda cintai.”

Serta renungkanlah firman Allah berikut dengan kerendahan hati :

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi diantara mereka. Dan Allah Maha Kuasa lagi Maha Penyayang.” (Al Mumtahanah : 7)

Dan ingatlah sesungguhnya kebanyakan kekhawatiran dan desas-desus itu sedikit kebenarannya dan jarang pula yang benar-benar terjadi.

Mari kita belajar untuk lebih adil dalam bersikap… J

Sumber : La Tahzan, Aidh Al Qarni

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s