berita · motivasi

Inspirasi dari Sebungkus Keripik


Inspirasi selalu bisa hadir dari mana saja, bahkan dari seorang pekerja industri rumah tangga sekalipun. Nur Hidayat namanya. Ia tinggal di Padukuhan Tanjung Sari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman. Bapak dari tiga orang anak ini adalah sosok yang ramah dan bersahaja. Tutur katanya lembut dan hospitality, tercermin dari caranya saat menyambut kami semua.

Selain ramah, Pak Nur Hidayat juga merupakan pribadi yang shalih, Ia selalu berangkat shalat wajib di Masjid tepat waktu. Seringkali dalam setiap obrolan dengannya, beliau menyisipi nasihat-nasihat (tausiyah) yang memberi semangat bagi pendengarnya. Beliau juga merupakan sosok yang taat berbakti kepada orang tua. Keseharian beliau dipenuhi dengan membantu kedua orang tuanya yang sudah mulai renta mengolah umbi gadung menjadi keripik dan sesekali pergi ke pasar untuk mengantar pesanan.

Umbi gadung telah menjadi teman setia bagi Pak Nur Hidayat dan keluarga. Sejak orang tuanya masih kecil, bahkan saat kakek dan nenek beliau masih hidup, umbi gadung telah menghiasi hari-hari mereka. Umbi gadung yang mereka kumpulkan ini diolah sedemikian rupa untuk menjadi bentuk kering, dan kemudian dipasarkan dalam bentuk keripik.

Perlu kita ketahui, umbi gadung bukanlah pangan yang aman untuk langsung dikonsumsi. Bahkan ia sangat berbahaya dan mampu menyebabkan kematian jika dikonsumsi tanpa pengolahan atau pengolahannya salah. Berita sempat mengabarkan anggota dewan pun dan stafnya pernah mengalami keracunan karena memakan makanan ini (suaramerdeka.com).

Keberadaan di desa tempat tinggal Pak Nur Hidayat, gadung punya cerita menarik. Pak Nur Hidayat bercerita, diriwayatkan oleh sesepuh-sesepuh desa. “Pada zaman dahulu umbi gadung turut membantu mengusir penjajah.” ujarnya. Dahulu kala, pasukan Belanda pada saat agresi militer seringkali masuk dan menyerang ke kampung untuk menyisir tentara-tentara rakyat Republik Indonesia yang bersembunyi di sana. Kampung yang diserang biasanya adalah kampung yang langsung memberikan perlawanan saat Belanda datang. Sedangkan untuk kampung-kampung yang menurut Belanda bisa diajak kerjasama akan dimanfaatkan olehnya. Dari sisi persenjataan tentara rakyat kalah jauh sehingga sulit untuk mengalahkan Belanda jika melakukan peperangan secara langsung.

Beruntungnya tentara-tentara rakyat pada saat itu sudah mulai pandai dan bisa mengalahkan tipu daya Belanda. Tentara rakyat banyak yang menyamar menjadi rakyat biasa dan berpura-pura bersikap baik dihadapan Belanda. Mereka senantiasa menyuguhkan hidangan untuk menyambut Belanda. Dan yang special dalam hidangan tersebut terdapat umbi gadung yang diolah tidak secara benar. Akibatnya setelah memakan hidangan tersebut, banyak dari pasukan belanda yang sakit, pusing, mual, dan hilang konsentrasi. Pada saat itulah tentara rakyat Republik Indonesia menghabisi mereka.

Sekilas, umbi gadung mungkin oleh sebagian besar kita dianggap sebagai makanan marginal. Padahal, jika kita pernah merasakan, rasanya jauh lebih nikmat daripada pop corn dan snack ringan yang ada di warung-warung. Tentunya dengan pengolahan yang benar agar kenikmatan itu tidak berbuah keracunan.

Pak Nur Hidayat bercerita bahwa keripik gadung yang mereka buat tersebut seringkali habis dan laku terjual. Bahkan untuk mencari bahan baku umbi gadung harus ke desa lainnya karena umbi gadung di Tanjungsari mulai langka. Untuk mengatasi hal tersebut, Pak Nur Hidayat membangun relasi ke banyak petani-petani di Sleman  untuk memantau ada tidaknya bahan baku umbi gadung.

Satu harapan dari Pak Nur Hidayat ialah agar pengembangan industri gadung di wilayahnya dapat ditingkatkan. Hal ini mengingat cara pengolahan (penghilangan racun) umbi gadung yang masih sangat tradisional.  Alhamdulillah… dengan semangat yang pantang menyerah, Pak Nur Hidayat dan keripik gadungnya mampu mengangkat citra dan menghidupi keluarga besarnya meskipun modal seringkali menjadi kendala.

-kak.im-

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s