motivasi

Menemukan Letak "Sebenarnya Cinta"


“Dari mata datangnya cinta ?
Dari mata turun ke hati.”

Wew..wew…wew…
Pernahkah mendengar percakapan-percakapan tersebut sobat ?
Atau yang ini …

“Sungguh, cintaku berasal dari hati yang paling dalam.”

wah… wah… gombalnya ya ! ck..ck..ck…

Eiits..jangan berfikiran yang macam-macam dulu loh !
Pertanyaannya adalah, benarkah Cinta itu berasal dari hati ?

Sungguh Allah telah meletakkan ke dalam diri manusia dua bejana, yaitu bejana hati dan bejana nafsu.
Sesuai dengan fungsinya, bejana tersebut harus diisi secara benar. Persoalan akan muncul jika kita salah menempatkan isi dari bejana tersebut. Sederhananya, umpamakan saja dua bejana tersebut seperti botol dan toples. Botol akan lebih cocok diisi dengan air, sedangkan toples lebih cocok diisi dengan biskuit. Tapi bayangkan jika hal tersebut kita balik, botol diisi dengan biskuit dan toples diisi dengan air, bagaimana jadinya ? Pasti kita akan bingung.

Begitu juga dengan dua bejana yang Allah berikan kepada manusia. Bejana hati dan bejana nafsu harus diisi dengan tepat sesuai dengan isinya. Lalu apakah isinya ?

Bejana nafsu berisi tentang segala hal yang menimbulkan keinginan dalam diri manusia, karena “nafsu adalah mata air keinginan dalam diri manusia.” Bejana nafsu diantaranya berisi susah, senang, berani, takut, benci, cinta, dan lain sebagainya. Ya… cinta berada di dalam bejana nafsu, karena cinta selalu melahirkan keinginan untuk melakukan sesuatu. Jadi maksudnya, cinta tidak berasal dari hati ?

Bejana hati sungguh teramat mulia jika hanya sebagai tempat meletakkan cinta. Bejana hati sejatinya hanya berisi tiga hal, namun teramat luar biasa. Tiga hal tersebut ialah benar, baik, dan mulia.

Mari kita umpamakan lagi sobat, semisal engkau sedang berkunjung ke rumah seorang teman dan disuguhi dengan segelas berisi STMJ (Susu, Telur, Madu, Jahe) hmm… coba bayangkan aromanya, rasakan nikmatnya. eeits,.. tapi ingat, dalam gelas tersebut HANYA Susu, Telur, Madu, dan Jahe SAJA !! tidak lebih. Yap, tanpa air… bayangkanlah rasanya.

Nah… gelas berisi STMJ tersebut adalah bejana nafsu, dan isinya didalamnya adalah warna-warni cinta, benci, takut, dsb. Seperti STMJ tanpa air itulah rasanya, rasa yang tidak karuan, yang kita sebut GALAU.

Rasanya tentu akan berbeda jika ke dalam segelas STMJ itu kita tuangkan segelas air. Mau panas ataupun dingin, ia akan sangat menyegarkan. Susu, Telur, Madu, dan Jahe tersebut akan menyatu dengan air dan tiada yang dapat memisahkannya. Rasanya pun baru bisa engkau bayangkan sobat.

Nah… gelas berisi air ini adalah bejana hati. Dan air yang dituangkan adalah isinya. Yakni kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan. Setelah air ini bercampur dengannya, barulah segelas STMJ yang tadi dihidangkan akan terasa nikmatnya. Seperti halnya saat cinta, benci, takut, susah, ataupun senang bercampur dengan benar, baik, dan mulia maka ia pun akan terasa nikmatnya.

Kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan, adalah Haq milik Allah. Kita hanya dapat mengikhtiarkannya dengan bejana hati yang telah Allah berikan. Maka untuk menata rasa cinta yang kita miliki, kita hanya bisa berikhtiar agar ia senantiasa terwarnai dengan kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan di sisi Allah.

Seorang manusia membutuhkan Sebenarnya Cinta, bukan sekedar cinta yang sebenarnya.
Karena cinta yang sebenarnya sangatlah relatif, relatif dalam pandangan manusia.
Aku mencintaimu dengan cinta yang sebenarnya.”
Sobat, bukankah pernyataan di atas bermakna sangat relatif ?
Sedangkan Sebenarnya Cinta, ia tidak terbatas relatifitas.
Karena Sebenarnya Cinta tumbuh dari hati yang hanya ada Allah di dalamnya.
Maa fii qolbi ghairullah.” “tidak ada dihatiku selain Allah.”

Cinta yang benar, baik, dan mulia

Cinta yang benar, bukanlah cinta yang didasari oleh penampilan fisik dan materi. Ia bukan cinta yang didasari oleh ketampana dan kecantikan, bahkan lebih ekstrimnya ia bukanlah didasari oleh kepribadian (mobil pribadi, rumah pribadi, perusahaan pribadi). he..he.. just kidding. Cinta yang baik tidak membeda-bedakan cinta, untuk siapapun ia diberikan dengan kadar yang sama. Cinta yang baik tidak ada harapan untuk memiliki, karena sesungguhnya cinta yang ingin memiliki adalah cinta palsu. Barang siapa yang ingin memiliki sesuatu dengan nama cinta, ia tidak benar-benar mencintai apa yang dicintainya, sejujurnya ia hanya mencintai dirinya sendiri. Karena pada saat itu ia melihat “cerminan dirinya” di dalam yang ia cintai. Dan yang paling penting, cinta yang baik tidak pernah berada di dalam kemungkaran apalagi untuk berbuat kemungkaran.  

Cinta yang baik adalah cinta yang selalu menjadi energi penyemangat untuk melipatkan ibadah dan amal-amal sholeh. Cinta yang baik membuat diri luluh dalam kebeningan dan kesucian. Cinta yang baik tidak akan membuat dampak negatif seperti berkhayal, berangan-angan, dsb. Bahkan ia tidak akan menghadirkan VMJ (Virus Menuju Jahannam).

Cinta yang mulia adalah cinta yang mampu menyejukkan hati siapapun. Cinta yang mulia bertahta di atas kemuliaan. Ia tidak akan menggejolakkan nafsu syahwat  orang lain. Maka, barang siapa yang merasa memiliki cinta, namun ia menggejolakkan nafsu syahwat orang lain, hendaklah ia mengintropeksi dan berkaca pada dirinya. Cinta yang mulia mampu menginspirasi kebaikan untuk sesama, ia mampu menjadi contoh teladan bagi siapapun yang menginginkan Sebenarnya Cinta. -im-

#KRPH Sabtu, 9 Dzulhijah 1432 H / 5 November 2011

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s