kab

Catatan Awal Tahun : KAB dari Masa ke Masa


Sebuah catatan singkat perjalanan Klinik Agro Mina Bahari …

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Dan tentunya menghargai jasa para pahlawan dapat dilakukan dengan memahami sejarah kepahlawanan tersebut, sejarah bangsanya. Begitu juga dengan sebuah organisasi, ia mampu besar karena para anggotanya memahami sejarah organisasinya dan apa yang telah dicapai para pendahulunya. mereka mampu meneruskan, mengembangkan, dan merealisasikan, cita-cita para pendahulunya. Semoga memahami sejarah tidak membuat kita larut dalam nostalgia saja, tetapi mampu membangkitkan semangat pengembangan dan semangat perubahan.

Memori saya kembali menerawang kesaat-saat saya pertama kali menjejakkan kaki di UGM. KAB merupakan rumah pertama yang menyambut saya saat melakukan registrasi di Grha Sbha Pramana UGM. Disanalah saya pertama kali mendapatkan informasi tentang Fakultas Pertanian dan sempat beristirahat melepas lelah. Seiring berjalannya waktu memang banyak organisasi yang sempat saya ikuti baik intra mupun ekstra kampus. Tercatat, ada 6 organisasi yang pernah saya ikuti selama di kampus dengan berbagai dinamikanya, tapi akhirnya KAB menjadi organisasi yang paling tertambat di hati hingga saat ini, meskipun bukan lagi anggota. Mungkin itu yang disebut jodoh ya🙂

Tulisan ini hanya sekedar catatan pribadi yang saya buat. Saya mencoba memetakan perjalanan KAB dari masa ke masa dari sudut pandang yang saya pahami (jadi ini mungkin tidak sepenuhnya lengkap sehingga membutuhkan data yang lebih akurat). Sejak tahun 2004 hingga 2011, KAB telah mengalami 6 kali pergantian kepemipinan dan kini telah memasuki yang ke-7. Di setiap masanya kepemimpinan yang ada tentunya memiliki warna yang khas dan berbeda namun tetap memiliki tujuan bersama untuk kemajuan KAB. Nah, saya mau sedikit bercerita tentang ini.

Klinik Agro Mina Bahari (KAB) awalnya hanya merupakan sebuah komunitas belajar yang mulai dirintis pada pertengahan tahun 2004. Namun kelompok belajar ini bukan sekedar kelompok belajar yang hanya membahas soal-soal ujian dan perkuliahan tapi lebih dari itu. Kelompok belajar yang pada mulanya dirintis Mba’ Lili Alawiyah (BDP 2001) dan kawan-kawan ini sejatinya mencoba membahas permasalahan yang ada di lingkungan pertanian-perikanan baik sains maupun sosial dari sudut pandang ilmiah.

Berdirinya KAB bukan tanpa dasar. Meningkatnya wacana untuk mengembalikan fungsi gerakan mahasiswa yang lebih berbasis intelektual dan keilmuan pada waktu itu (2004) menjadi salah satu faktor yang turut mendukung lahirnya KAB. Seperti yang kita tau, pasca reformasi tahun 1998 sebagian besar gerakan mahasiswa praktis lebih cenderung seperti gerakan massa kritis yang turun ke jalan dan sangat reaktif terhadap issue-issue lokal dan nasional. Tapi disisi lain kapasitasnya sebagai mahasiswa sendiri bertolak belakang dengan kekritisannya. IPK yang jeblok, pemahaman yang kurang terhadap bidang keilmuannya sendiri, serta kurangnya kontribusi real mahasiswa menjadi problem yang mencoreng fungsi dan peran mahasiswa itu sendiri.

Untuk itulah pada tahun 2004, KAB lahir sebagai rintisan awal sebuah gerakan mahasiswa berbasis intelektualitas dan keilmuan yang mengedepankan metode-metode ilmiah di Fakultas Pertanian.  KAB juga tidak berjalan sendiri karena selama rentang waktu itu, pada saat yang sama juga mulai bermunculan kelompok studi sejenis di fakultas-fakultas yang lainnya.

Legalitas sebagai Lembaga yang diakui secara resmi di Fakultas Pertanian UGM merupakan cita-cita yang sampai saat ini masih terus diperjuangkan. Legalitas sebagai BSI/UKM memang bukanlah tujuan akhir tapi sebagai salah satu tahapan untuk mencapai visi besar tersebut. Jangan tanya kenapa harus diperjuangkan ! Visi besar KAB yang jauh kedepan untuk menjadi “Kelompok Studi Mahasiswa dan Mitra Masyarakat Tani-Nelayan” di Fakultas Pertanian UGM saya rasa cukup menjawab kenapa perlunya sebuah legalitas. KAB membutuhkan dukungan semua elemen civitas akademika Fakultas Pertanian UGM untuk mencapai visi tersebut.

Selanjutnya saya mohon maaf karena kurang begitu mengetahui apa capaian KAB diperiode 2005-2007 pada saat dipimpinn mba’ Marvita A. Rimbasari (Agronomi 2002) dan  mba’ Aida Nurfaedah (MSP 2003). Mungkin suatu saat nanti kita bisa silaturahim ketempat mereka untuk mendengar cerita tentang KAB pada saat itu. Saya baru bisa memberikan pandangan saya pada periode 2007-2008 saat dipimpin oleh mas Panji Arohman (MSP 2004). Diperiode ini KAB mulai membuka diri. Memang yang sangat terasa adalah forum-forum kulturalnya. Hampir setiap pekan ada agenda menonton bareng film-film bergenre ilmiah dan agenda non-formal lainnya. Pada saat tersebut KAB belum memiliki rangkaian alur kaderisasi seperti sekarang, atau bahkan bisa dibilang belum ada aplikasi, karena baru sebatas konsep yang digagas. Rancangannya sudah ada tetapi memang belum diaplikasikan dengan baik. Pada saat itu jangan tanya PKM KAB seperti apa ? Dalam hal prestasi KAB juga masih dalam tahap akuisisi prestasi individu, artinya KAB belum menginisiasi prestasi secara kelembagaan. Tetapi masih dalam tahap kolektivikasi prestasi individu-individu anggotanya. Dan yang saya salute semua anggota bisa ikhlas menyumbangkan pestasinya tersebut untuk KAB. Contohnya ialah prestasi mas Panji Arohman yang mencapai Mahasiswa Berprestasi (MAPRES) 1 Fakultas Pertanian, dan MAPRES 4 UGM pada tahun 2008, serta prestasi mas Fakhrudin Al Rozi peraih medali emas PIMNAS 2007.

Pada tahun berikutnya di periode 2009 kepengurusan mba’ Mustaqim (Pemul 2006)  semangat di awal yang menggebu untuk segera menjadi BSI/UKM membuat KAB memutuskan untuk mengikuti MUKMFPN dan mengajukan diri sebagai BSI. Namun sayangnya pengajuan itu ditolak karena ada beberapa hal yang belum bisa KAB penuhi. Saya sangat berterima kasih kepada rekan-rekan yang sangat gigih memperjuangkan KAB pada waktu itu seperti Yani, mas Uut, mba’ Mitha, Ufi dan yang lainnya. Hal ini menjadi pembelajaran dan evaluasi besar untuk lebih merapikan strategi pentahapan. Akhirnya, KAB mulai merapikan pengelolaan organisasinya. mba’ Musta yang sebelumnya merupakan kadept PSDM KAB di masa mas Panji, mulai mengaplikasikan alur kaderisasi yang telah dibuat. Itulah pertama kalinya diselenggarakan rangkaian program Smart (Smart Camp, Class, dsb). Pada saat itu mulai dibentuk beberapa tim kecil PKM secara non-formal lembaga yang kemudian ikut serta dalam kompetisi PKM. Hasilnya lumayan signifikan, lebih dari 5 kelompok PKM KAB lolos di PKM 2009. Namun ternyata, banyaknya tim yang lolos PKM ini ternyata juga memberikan dampak bagi KAB, positifnya prestasi KAB mulai meningkat, tapi negatifnya anggota yang terlalu sibuk di PKM jadi terkesan melupakan tugasnya di KAB sebagai fungsi kelembagan yg seharusnya mampu mengayomi anggota yang lebih muda, sehingga di akhir kepengurusan terjadi ketimpangan dalam pengelolaan organisasi. Akibatnya yang terkenal hanya kader-kader atau anggota KAB yang berprestasi sedangkan KAB sendiri kurang dikenal.

Dampak ini terasa di tahun berikutnya periode 2010 dikepengurusan saya (Pemul 2007), KAB agak kesulitan dalam mencari pengurus harian. Maka keputusannya pada saat itu, saya dan rekan-rekan DFPO memutuskan untuk merampingkan kepengurusan dari yang awalnya 13 menjadi 9 orang saja. Di kepengurusan saya, kami juga sempat melakukan survey seberapa “dikenalnya” KAB di kalangan Mahasiswa baru angkatan 2009. Hasilnya sungguh mengejutkan karena sangat sedikit sekali yang kenal dengan KAB. Padahal untuk bisa menjadi BSI/UKM dukungan mahasiswa merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh. Maka, dari hasil survey tersebut kami dikepengurusan tahun 2010 memutuskan untuk lebih mengoptimalkan syiar KAB ditataran mahasiswa dan organisasi intra lainnya di Fakultas Pertanian UGM, sambil terus membenahi kaderisasi yang mengalami kendala karena sedikitnya anggota. Program-program sebelumnya seperti pembentukan PKM dan  diskusi ilmiah kultural yang telah ada tetap dilaksanakan meskipun diakui masih belum optimal. Sedikit penghibur, KAB dikepengurusan ini lumayan bisa menorehkan prestasinya di kancah nasional dan internasional lewat anggota-aggotanya. Saat itu saya sempat ikut ke PIMNAS 2010 dan mas Adhita yang mewakili di conference IASS Malaysia. Di tahun itu juga untuk pertama kalinya KAB dapat stand resmi di PPSMB Fakultas Pertanian UGM. Ini merupakan usaha dari fungsi jaringan yang terus intensif melakukan pendekatan dan penguatan ke organisasi lain di Fakultas Pertanian khususnya DEMA selaku lembaga eksekutif mahasiswa serta lembaga. Meskipun tidak bisa dipungkiri pada kepengurusan saya interaksi dengan para pakar ilmu (dosen, praktisi) dirasa sangat kurang dan sangat jarang.

Kisah pun berlanjut di kepengurusan 2011 Fatonah Winiasri (BDP 2008), langkah awal yang digagas di kepengurusan ini adalah dengan bergabungnya KAB menjadi bagian DEMA Pertanian sebagai salah satu biro, perlu kita ketahui bersama dalam MUKMFPN ada sebuah tata aturan yang menyatakan syarat menjadi BSI adalah 2 tahun dibawah DEMA, maka sebagai suatu ikhtiar KAB pun mencobanya. Harapannya semoga di akhir tahun 2012 atau awal tahun 2013 KAB sudah bisa berubah status menjadi BSI.

Setiap pilihan tentu ada dampak baik dan buruknya, tanyakan saja pada Asri dan pengurus hariannya, mereka pasti lebih tahu…  Yang saya perhatikan, menjadi biro dibawah DEMA sebagai salah satu tahap untuk menjadi BSI bersifat lebih halus dan kooperatif. Integrasi antara KAB dengan lembaga yang ada di Fakultas Pertanian menjadi lebih rapi, juga sinergitas antar lembaga lebih terkoordinasi dengan baik. Interaksi dengan para pakar (dosen, praktisi) dan birokrasi kampus (dekanat) juga jauh lebih baik. Poin positifnya KAB mulai dipercaya oleh mahasiswa sebagai center of PKM, sampai-sampai wakil dekan kemahasiswaan Fakultas Pertanian UGM meminta KAB sebagai penyelenggara Training PKM se-Fakultas meskipun pada saat itu belum bisa terlaksana karena sepertinya KAB belum siap. Namun, secara kesuluruhan fungsi jaringan semua pengurus harian di kepengurusan ini saya acungi 4 jempol. Kenapa ? karena selain bisa berinteraksi dengan baik terhadap dekanat, DEMA, dan HMJ/BSI lainnya, KAB juga mampu mampu bekerja sama dengan pihak luar dalam menyelenggarakan kegiatan bersama. Begitu juga dengan fungsi kaderisasi, masalah klasik seperti kekurangan kader hampir-hampir saja terulang kembali kalau saja fungsi kaderisasi KAB tidak berjalan dengan baik (lain waktu kita akan bahas tentang kaderisasinya ya..🙂

Kini tahun telah berganti dan sejarah baru siap dituliskan di kepengurusan Ari Akbar Devananta (THP 2010). Nah apakah tahapan dalam sejarah KAB ini akan terus berlanjut dan berkembang, ataukah akan hilang dihapus dan dirombak total ? biar Ari dan kepengurusan di periode 2012 ini yang akan menjawabnya. Saya percaya setiap sejarah yang ditorehkan pasti akan meninggalkan kesan yang indah.

Seperti nasihat yang seringkali kita dengar, ambil yang baik tinggalkan yang buruk. Begitu juga diorganisasi ini, segala yang baik di kepengurusan sebelumnya bisa dipertahankan bahkan dikembangkan, dan yang buruk buang saja jauh-jauh. Saatnya yang muda yang berkarya untuk membangun KAB dengan berbagai inovasinya.

Nb:   tulisan ini hanya sebatas opini dan pemahaman pribadi saya saja terhadap KAB.
Semoga bisa menjadi suatu bentuk ucapan cinta untuk kelompok studi yang pernah membesarkanku ini. mohon maaf bagi yang namanya saya cantumkan di sini tanpa izin he..he.. peace ^_^
Semoga tidak ada penyimpangan sejarah, kalo ada mohon diluruskan ya.

sincerely
-im_selembardaun-

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s