kampuz · motivasi · special

Cinta di bawah Senja Jalanan


dokumentasi indoplace.com

Jam telah menunjukkan pukul 16.00 wib. Aku baru saja sampai di Masjid yang terletak diperempatan jalan dekat KFC itu. Masjid Al Hasanah kalau tidak salah namanya. Seperti biasanya di setiap sore, perempatan yang menjadi titik nol jalan kaliurang itu selalu ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki yang melintas. Setiap orang kembali pulang setelah melalui aktivitas seharian, atau mungkin juga ada yang baru berangkat bekerja, seperti para penjaja makanan fast food kelas rakyat yang baru saja menggelar tendanya. Mereka siap bersaing hingga larut malam dengan bapak tua bule penjaja fast food di seberang mereka, pak KFC.

Itulah geliat kehidupan di perempatan yang kami sebut dengan perempatan Mirota. Entah mengapa disebut begitu, mungkin karena di sana terdapat swalayan Mirota Kampus yang paling megah berdiri. Padahal disana juga ada bangunan yang lebih tua berdiri, yakni kampus MIPA selatan UGM yang bangunannya sangat klasik jadi mungkin agak kurang menarik. Juga ada KFC di salah satu sisinya, dan warung penjaja kue di sisi lainnya.

Sore itu hujan turun rintik-rintik, aku masih duduk di selasar masjid sambil membaca buku yang aku bawa. Sesekali memperhatikan handphone menunggu sms dan melihat jam, tanda sudah mulai galau. Sesekali pula aku melempar pandangan ke halaman, menelisik dari balik bilik-bilik anyaman bambu yang menutupi bagian barat masjid, melihat sekumpulan anak yang sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang berkumpul dan makan bersama, ada yang menggenjreng gitar eloknya, ada yang menghitung uang, ada yang mondar mandir di pinggir jalan raya, ada juga yang duduk melamun di sudut halaman masjid.

15 menit, 20 menit, dan setengah jam teman-teman yang aku tunggu itu akhirnya tiba juga di Masjid Al Hasanah. Dalam komunitas ini, aku tergolong anak baru meskipun secara umur seharusnya sudah lamaaa sekali. Awalnya aku pikir akan ada orientasi, tapi ternyata tanpa pembukaan dan basa basi, kegiatan yang akan kami lakukan di sore itu langsung saja dimulai. Secara otomatis, aku pun langsung ikut menyesuaikan.

Ini pengalaman pertama buatku, berinteraksi dengan anak-anak yang tadi aku perhatikan secara sembunyi-sembunyi dari balik bilik masjid. Mereka adalah anak-anak yang seringkali aku lihat tiap kali lewat perempatan ini. Tapi selama itu, aku tak pernah bertegur sapa langsung dengan mereka, sesekali hanya memberi uang dan berlalu begitu saja.

Mereka adalah anak-anak baik yang keberuntungannya mungkin sedikit berbeda dengan kita pada umumnya. Mereka bukan anak manja yang menangis kala kehujanan, dan merengek karena kepanasan. Mereka adalah anak-anak yang tangguh yang sejak kecil tela ditempa oleh kerasnya alam perkotaan. Mereka adalah anak-anak pantang menyerah yang sebenarnya punya impian sederhana yang sangat indah. Dan di sore hari itulah pertama kalinya aku mengenal mereka.

Di bawah pohon rindang, di halaman masjid Al Hasanah kami bersilaturahmi bersama anak-anak ini. Ada yang bermain bola, ada yang berbincang-bincang, dan ada yang menggambar bersama. Aku lebih memilih untuk mendengarkan cerita salah seorang dari mereka, Joko panggilannya. Muhammad Joko Mania nama Facebook nya. Ia seorang arek Suroboyo yang pernah merantau di Jakarta, Semarang, dan kini terdampar di Jogja. Meskipun sama sekali tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, dan ayahnya, ibunya, kakaknya, adiknya sekarang entah dimana, ia tetap semangat menjalani kehidupan. Salah satunya dengan menulis untuk mengisi waktu senggangnya (Lain kali aku akan cerita tentangnya… J ).

Kami terus berbincang sambil bersama-sama menikmati bekal hingga senja mulai menampakkan rosetnya, Adzan Maghrib pun berkumandang dan mengakhiri pertemuan kami di hari itu. Langit boleh meredup, tapi benih-benih cinta yang telah hadir di senja itu harus tetap menyala. Dan nyalanya semoga terus menyinari dengan selantun doa dan sebentuk kontribusi untuk anak-anak luar biasa ini.

Thank’s to GKM for the  first experience wonderfully,
and to Lina for contribute the Title of this post…

2 thoughts on “Cinta di bawah Senja Jalanan

  1. mereka, adalah guru bagiku.
    Mbak Unyil (nama beken) memberiku sebuah energi untuk kembali beresemangat dalam merigidkan mimpi2 besarku..
    kata2nya yang membuatku terkesan “…sepuluh ribu dari penghasilanku, harus menjadi uang mati…”. Meski harus tidak makan, uang itu harus dia kumpulkan untuk membayar utang dan setelah itu dia akan kembali mewujudkan mimpi di tanah asal. Sangat sederhana memang, tapi disitulah sebuah TEKAD aku tangkap.

    Nice story, mas Imam. ^^ terimakasih telah menjadi bagian dari kami, pendekar kecil jalanan.🙂

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s