kontemplasi

Menjadi Dedaunan yang Terus Bertahan


Semakin jauh perjalanan dakwah yang kita lalui, semakin banyak pula dinamika yang kita hadapi. Di setiap langkah ada saja rintangan yang kita jumpai. Kesedihan, kesenangan, kekalahan, kemenangan, silih berganti. Semakin jauh perjalanan menandakan semakin tua juga usia perjalanan dakwah yang kita jalani.

Ibarat dedaunan di sebuah pohon. Ketika hidup, daun memiliki peran strategis dalam mendukung kehidupan pohon tersebut.  Dan ketika telah sampai pada akhirnya, daun pun syahid dalam gugurnya. Ia jatuh berguguran sejatinya ketika ia telah benar-benar tua, dipenghujung masanya.

Namun tak bisa dipungkiri, banyak juga dedaunan yang berguguran sebelum waktunya, entah karena tertiup angin, terpetik oleh tangan-tangan jahil, maupun karena terserang hama dan penyakit hingga ia rapuh, mati sebelum waktunya.

Begitupun dalam perjalanan dakwah. Beberapa “dedaunan” yang seharusnya mendukung kehidupan dakwah ini mungkin saja gugur sebelum waktunya. Mereka yang berguguran bisa jadi adalah mereka yg telah lebih dulu tumbuh dalam pohon dakwah, tumbuh bersama-sama, bahkan mereka yang baru muncul menjadi tunas harapan. Entah apapun alasannya, mereka mungkin kini telah gugur dan tidak lagi membersamai kita dalam mendukung tumbuhnya pohon dakwah.

Lalu, apakah kita yang kini bertahan di ranting-rantingnya, di dahan-dahannya, akan ikut gugur dan membiarkan pohon itu mati karena tak ada lagi daun yang menghidupkannya ? tidak, sekali lagi tidak. Sekalipun kita gugur, pohon ini akan terus menumbuhkan tunas baru, dedaunan baru. Karena pohon ini memiliki sumber energi yang tiada habisnya, energi keimanan dan energi keikhlasan yang diberikan Rabb semesta alam untuknya.

Kalaupun dahulu orang yang mengajak kita untuk tumbuh bersama dakwah kini menghilang dari kafilah dakwah kini, bukan karena alasan mereka kita ikut meninggalkan dakwah. Kalaupun orang yang bersama-sama memulai berjuang dan kini malah menghilang dari kafilah dakwah, apakah langsung membuat kita putus asa ?

Jika motivasi kita karena Allah, apapun kondisinya kita akan tetap bertahan untuk terus menumbuhkan dakwah bersama dedaunan baru bahkan sampai ia  berbunga dan berbuah. Apapun kondisinya kita akan terus bertahan karena menjadi bagian darinya adalah pengokoh keimanan kita.

“Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikutnya yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak pula menyerah kepada musuh. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imron:146)

“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu beriman.” (QS. Ali Imron: 139).

Jika kita memahami, sejatinya dakwah tidak pernah diperjuangkan sendiri. Di penjuru negeri, banyak dedaunan yang  terus berjuang untuk menumbuhkan pohon dakwah. Dengan segala keterbatasannya, dengan segala kemampuannya, ia terus mendukung agar pohon ini tumbuh besar dan mampu menaungi semesta dengan hijaunya. Menyejukkan, meneduhkan, serta memberi manfaat kepada lingkungannya, dengan airnya, dengan oksigennya, dengan buahnya.

Maka, akankah kita menjadi bagian dari dedaunan yang terus bertahan ?

*yah, ini hanya sedikit inspirasi sepulang pekanan sobat. moga manfaat =D

3 thoughts on “Menjadi Dedaunan yang Terus Bertahan

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s