opini

Menghapus Kemiskinan


Kemiskinan merupakan sebuah masalah rumit bangsa Indonesia yang hingga saat ini masih terus diupayakan penyelesaiannya. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik Republik Indonesia menyatakan jumlah penduduk miskin Indonesia pada bulan September 2011 mencapai 29.89 juta jiwa atau 12.36 % dari  total seluruh penduduk Indonesia. Hal ini mengalami penurunan 0.13% dibandingkan penduduk miskin pada bulan Maret 2011 yang sebesar 30.02 juta jiwa atau 12.49%.

Di atas kertas, hal tersebut merupakan prestasi yang patut kita apresiasi. Namun sayangnya belum ada yang menjelaskan, penyebab menurunnya tingkat kemiskinan tersebut apakah benar-benar karena warga miskin yang 0.13 % itu telah meningkat taraf ekonominya, ataukah hanya sekedar rekayasa  data untuk menunjukkan prestasi bangsa ? kita tidak tahu. Terlepas dari hal itu, data penduduk miskin yang mencapai 12.36 % dari jumlah seluruh penduduk Indonesia bukanlah angka yang kecil, dan mungkin saja angka ini bisa bertambah lagi jika program pengentasan kemiskinan tidak dijalankan dengan berkesinambungan.

Kemiskinan bukanlah sebatas permasalahan ekonomi melainkan juga permasalahan sosial. Kemiskinan juga menjadi hal yang mendasari munculnya berbagai permasalahan sosial lain di masyarakat seperti  kebodohan akibat kurangnya akses pendidikan, pengangguran, peningkatan jumlah anak jalanan dan peminta-minta, serta tindak kriminalitas.

Program pengentasan kemiskinan yang diusung pemerintah mulai dari pemberian BLT, sembako gratis, sekolah gratis, kesehatan gratis, dan lain sebagainya sebenarnya telah lebih dari cukup. Namun, program-program ini tetap saja dirasa kurang mampu mempercepat pengentasan kemiskinan di Indonesia. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh ketergantungan warga miskin terhadap bantuan yang diberikan. Kurangnya kreativitas serta kemauan untuk berubah dan meningkatkan taraf hidupnya secara mandiri menjadi permasalahan sosial klasik yang cenderung sulit diatasi.

Di tengah permasalahan kemiskinan yang melanda bangsa ini, diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, BUMN, LSM, dan para intelektual termasuk mahasiswa yang disebut-sebut memiliki peran strategis sebagai agent of change, moral force, iron stock, dan social control. Lalu bentuk kerjasama yang seperti apa ? Secara sederhana agar mampu mengintegrasikan setiap elemen tersebut perlu dirumuskan sebuah sarana yang bisa mencapai tujuan bersama, dengan pengorbanan bersama, namun tetap memiliki nilai profit dan keuntungan, sehingga dapat memberikan manfaat bagi semua. Sarana tersebut dirangkum dalam dua kata sederhana yakni social entrepreneurship.

Social entrepreneurship bukanlah barang baru. Hanya saja di Indonesia kekuatan socio entepreneurship masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain.  Dr. Muhammad Yunus peraih nobel perdamaian tahun 2006 telah berhasil menerapkan social entrepreneurship di Bangladesh lewat Grameen Bank yang memberi pinjaman kepada kaum miskin di Bangladesh. Pemberdayaan masyarakat yang kurang mampu yang dilakukan oleh Yunus ini tidak hanya menghasilkan  kesejahteraan sosial masyarakat tetapi juga mendatangkan keuntungan secara finansial. Kunci keberhasilan Yunus ini ialah karena adanya kesadaran untuk maju bersama di kalangan masyarakat miskin Bangladesh.

Siapapun mampu mengembangkan social entrepreneurship asalkan memiliki kesadaran sosial, kemampuan berinovasi, dan kemauan untuk maju dan menggerakkan masyarakat. Dalam mengembangkan social entrepreneurship yang diperlukan bukan sekedar menyumbang uang asal terpenuhi kewajiban, namun diperlukan pendampingan intensif, serta investasi waktu dan keahlian. Pendampingan melalui inovasi teknologi dan pembinaan usaha menjadi sangat penting karena berfungsi membangkitkan semangat, kreativitas, dan perubahan di kalangan warga miskin agar mampu berdaya di segala sektor kehidupannya.

Di masa yang akan datang social entrepreneurship bukan lagi sekedar menjadi alternatif penyelesaian masalah kemiskinan, tetapi harus menjadi komponen utama pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan. Kegiatan mencetak wirausaha muda baik lewat kompetisi maupun CSR perusahaan harus lebih digiatkan untuk memperbanyak program social entrepreneurhsip di masyarakat agar dapata menghapus kemiskinan dari bumi Indonesia.