Islam · kontemplasi

Bukan Sebuah Retorika


“Ya ayyuhallazina amanuttaqullaha haqqo tu qoti, wala tamutunna illa wa antum muslimun.”

Sekian lama ga’ menulis rasanya kangen juga. Sekedar ingin berbagi, kebetulan tadi pagi aku ikut sebuah kuliah singkat yang isinya cukup inspiratif agar kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Sobat, mungkin kamu ga’ asing dengan kalimat italic yang aku tulis di atas. Itu ayat yang biasa dibacakan oleh khotib atau ustadz setiap mau memulai ceramah atau khotbah. Hmm… Tapi kamu tau ga’ sih artinya ?  wow… ternyata ayat itu berisi sebuah nasihat yang penting banget buat kita kaum muslimin.

Nah, kurang lebih artinya begini : ” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati, melainkan sebagai seorang muslim.”  (Ali Imron : 102).

Mengingatkan tentang takwa sepertinya menjadi sebuah kewajiban yang sudah lazim dilakukan oleh khotib tiap khotbah atau ceramah berlangsung. Dari sisi subjek alias khotib, it’s oke. Khotib sudah menunaikan kewajibannya untuk mengingatkan. Tapi bagaimana dari sisi objeknya, alias sang pendengar ? sudah seberapa takwa kita ?

Kebanyakan kita mungkin hanya mendengarkan ayat tersebut sambil lalu, istilahnya masuk kuping kanan keluar kuping kanan. bahkan ga’ sempat nembus ke kuping kiri. (he..he…) Padahal kalo kita mau merenungi ayat tersebut sungguh sangat luar biasa sobat.  Ayat itulah yang seringkali dibacakan Rasulullah SAW setiap menyampaikan nasihatnya kepada para sahabat dan kaum muslimin dalam forum-forumnya, termasuk kepada 10 sahabat yang telah Allah jamin surga (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Abdullah, Sa’id bin Zaid, Zuwair bin Awaam, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidillah bin Jarrah). Subhanallah…

Bayangkan sobat, sudah dijamin sama Allah rumahnya di surga kelak aja, Rasulullah masih selalu mengingatkan mereka. Nah loh… bagaimana dengan kita yang belum punya jaminan ?

Merepresentasikan sebenar-benar takwa bukan hanya memaknainya dengan hati, tapi juga harus mengoptimalkan ikhtiar kita untuk menjalankan sunah-sunah yang telah Rasulullah contohkan. Sholat, puasa, mengaji Al Qur’an, membayar zakat, nasehat-menasehati,  tolong menolong, dsb, dengan sebenar-benarnya, sesuai yang telah diajarkan.

Kita patut bersyukur karena Allah masih memberikan kita kemampuan mendengar yang baik. Kita pun patut bersyukur karena Allah masih memberikan kita akal yang sehat. Nah, sudahkah kita benar-benar bersyukur ? Cukupkah hanya mengucap Alhamdulillahirabbil’alamin ?

Sobat, salah satu cara bersyukur yang paling baik, adalah dengan mengoptimalkan pendengaran dan akal sehat yang Allah berikan itu untuk terus menambah ketakwaan kita. Maka sobat, mari dengarkan setiap nasehat kebaikan yang bersumber dari Rasulullah dengan sebaik-baiknya.

Selanjutnya kita coba untuk memahami dan mewujudkan nasehat-nasehat itu meskipun sedikit demi sedikit, karena lama-lama tentu akan menjadi bukit juga. Semoga menjadi bukit pahala yang menanti di surga kelak. Karena itu bukan sebuah retorika. wallahualam…

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s