istimewa · motivasi

Ispirare La Riflessione …


Jangan kau tanyakan bagaimana cara membuat inspirasi, karena Inspirasi itu tidak akan bisa dibuat, bahkan sampai kiamat. Inspirasi datang sendiri, ia datang dari interaksi. Interaksi kita dengan manusia lain, dengan alam, dan dengan tuhan. Maka untuk memperoleh inspirasi, senantiasalah berinteraksi.

Kalo menurut mbah google, Inspirasi adalah percikan ide-ide kreatif yang waktu dan tempatnya jarang kau kenali, kecuali kau sudah melatih diri dengan pembiasaan. Inspirasi adalah akibat-hasil dari proses pengembangan diri. Dan yang terpenting, inspirasi merupakan penemuan momentum of ‘Aha’.

Anies Baswedan berpesan : “Ada banyak hal yang membuatmu tak akan pernah kehabisan inspirasi di dunia ini, berinteraksilah… think like a stranger, but act like a native.”

Maka agar inspirasi kau dapatkan, mulailah dengan bergerak dan bersikap sebagai stranger, tanya, tanya, dan tanya, seakan-akan kau belum banyak tahu. Hanya stranger yang berani bertanya tentang hal-hal yang sudah tak lagi ditanyakan oleh orang umum karena dianggap hal lumrah. Hanya stranger yang berani bertanya tentang hal-hal tak umum yang ada di masyarakat, dan membuka wawasan dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Nah, setelah inspirasi kau dapatkan via peranmu sebagai stanger, maka bertindaklah sebagai native agar inspirasi yang kau dapatkan terealisasikan dalam kerja nyata, dan mampu menular ke orang-orang lainnya.

Mansyur adalah salah satu dari sekian banyak tokoh inspirator muda yang patut dicontoh. Tak sekedar mencari inspirasi untuk kebermaknaan hidupnya, Ia pun sekaligus menginspirasi banyak orang agar peduli pada pendidikan anak-anak di pedalaman desa pesisir Sengot, Kalimantan pada tahun 2010 silam.

Di desa yang tak bertanah ini (karena menggunakan lantai berpapan kayu untuk menyambung tiap lokasi rumahnya) Mansyur harus bertahan selama satu tahun disana dan bertugas merangkul, mengajak, dan membuat masyarakat Sengot peduli pendidikan. Baik anak-anak, remaja, maupun orang tuanya.

Mengajak berubah suatu masyarakat yang awalnya tidak peduli menjadi peduli tentu bukan perkara mudah. Kesan awal yang Mansyur dapatkan saat penyambutannya sebagai guru bantu pun cukup menyesakkan. “Kita lihat, berapa lama dia bisa tahan disini.” Kata beberapa guru. Selama tiga bulan awal di Sengot, Mansyur dianggap remeh dan dikucilkan oleh masyarakat. Bahkan oleh rekan-rekannya sesama guru dan murid-muridnya di SD tempat dia mengajar.

Di Sengot, Mansyur ditempatkan di sebuah sekolah dasar yang jumlah siswanya seperti piramid. Semakin tinggi kelas, semakin sedikit siswanya. Hal ini dikarenakan ketika anak-anak beranjak dewasa, para orang tua lebih memilih menarik anak mereka dari sekolah untuk diajak membantu mereka bekerja. Mencari uang jelas lebih penting dibandingkan harus bersusah-susah belajar, Begitu mainset-nya. Budaya yang dimiliki sekolah ini juga bisa dibilang kurang baik. Guru biasa terlambat, begitu pun murid yang bisa masuk jam sekolah seenaknya.

Sebagai pendatang, Mansyur juga sering direpotkan oleh ulah oknum masyarakat yang sengaja menjahilinya. Begini ceritanya : Dari Desa Sengot ke kota, Mansyur harus menempuh perjalanan sungai menggunakan sampan selama 2 jam, dilanjutkan perjalanan darat selama 2 jam. Terkadang, tarif yang dibayar Mansyur untuk naik sampan jauh lebih mahal dibandingkan pada umumnya. Mansyur harus merogoh kocek lebih dalam yakni Rp.200 ribu, padahal tariff normalnya Rp. 50 ribu. Hal ini karena Mansyur datang dari Jawa, dan ia dianggap punya banyak uang. Jika tidak mau membayar maka Mansyur tidak dapat pergi ke kota, karena jalur sungai adalah satu-satunya akses ke sana. Pernah juga ia dikerjai oleh penarik perahu, yakni Mansyur disuruh menunggu sebentar di pinggir sungai dengan alasan sang penarik perahu tengah mempersiapkan sampannya. Namun pada kenyataannya sang penarik perahu menghilang dan meninggalkannya sehingga ia terpaksa harus bermalam menunggu perahu lainnya.

Banyaknya cobaan yang dihadapi Mansyur ini sempat membuatnya bingung dan frustasi, tapi bukan Mansyur namanya kalau ia menyerah dan kalah. Dengan kesabarannya Mansyur tetap optimis bahwa ia dapat mengajak masyarakat Sengot untuk peduli pendidikan.

Hendra namanya, Ia kelas empat. Awalnya Hendra bersekolah di kota, namun karena tiga tahun ia tidak naik kelas ia dipindahkan ke Sengot agar tidak membuat malu orang tuanya. Sebenarnya Hendra adalah anak yang cerdas, tetapi karena metode pendidikan yang kurang tepat ia kurang bisa mengekspresikan kecerdasannya. Akibatnya ia kurang percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya.

Awalnya, Hendra adalah anak yang paling cuek dengan keberadaan Pak Guru Mansyur. Setiap dipanggil, ia tidak pernah menggubris, bahkan menghadapkan wajahnya ke Pak Guru Mansyur pun tak pernah. Ia pun sering tidak masuk ke sekolah karena kesal diejek oleh teman-temannya dan dikatai ‘bunguk’ (bodoh).

Pernah suatu ketika ditengah jam pelajaran, teman-temannya bersahut-sahutan mengejek Hendra hingga ia hampir menangis. Saat itu Pak Guru Mansyur masuk kelas dan langsung menegur murid-murid. “Kalian apakah mau kalau tidak naik kelas semua ?” “Tidak mau pak !” Jawab murid-murid. “Kalian apakah  suka kalau dikatai bodoh ?” “Tidak suka pak !” jawab murid-murid lagi. “Jadi kalo kalian tidak mau, jangan pernah mengejek Hendra dengan ejekan bodoh lagi !” anak-anak terdiam. ‘Aha’ saat itulah Hendra menoleh dan menatap Pak Guru Mansyur, Ia merasa ada yang mendukungnya. Mulai saat itu ia menjadi dekat dengan Pak Guru Mansyur dan selalu bersemangat mengikuti aktivitas sekolahnya. Akhirnya di akhir tahun kenaikan kelas, Hendra mampu mendapatkan peringkat 3 di kelasnya.

Mansyur sebenarnya hanya melakukan sesuatu yang sederhana. Ia hanya berusaha menegakkan aturan yang ada, yang selama ini sering diabaikan. Mansyur selalu berusaha datang jam 7 pagi meskipun pengurus sekolah tidak pernah memintanya. Di kelasnya Mansyur berusaha merapikan jadwal piket dan daftar presensi siswa. Yang unik, di daftar presensi siswa, Mansyur bukan hanya mencantumkan td.tangan, sakit, izin, dan absen (presensi umum sekolah) tetapi ia juga menambahkan kolom sholat, dan membantu orang tua. Awalnya, para murid tidak peduli dengan daftar presensi yang Mansyur buat. Bahkan banyak dari anak-anak yang tidak mengerti bagaimana cara sholat, sehingga Mansyur harus mengajarkan mereka dari awal. Lama kelamaan, dengan kegigihan dan kreativitas Mansyur, anak-anak pun satu per satu mulai berubah menjadi lebih baik. Mereka sudah bisa sholat di rumahnya masing-masing meski tak diawasi. Mereka juga mulai mau membantu orang tuanya seperti membantu menyapu halaman, membuatkan teh, maupun memijat orang tuanya ketika mereka lelah pulang bekerja.

Secara akademik, memang inovasi yang dibuat oleh Mansyur tidak langsung meningkatkan prestasi siswanya, tetapi hal itu secara tidak langsung dapat mengubah sikap orang tua siswa terhadap anak-anak mereka. “Secuek-cueknya orang tua terhadap agama, mereka akan senang ketika melihat anaknya bisa sholat dan membantu mereka.” Ujar Mansyur saat menyampaikan ceritanya

Semakin lama berada di Sengot, akhirnya Mansyur pun mulai mendapatkan kepercayaan masyarakat, Guru-guru mulai mengapresiasi kinerja Mansyur di sekolah yang kian menunjukkan trend positif, beberapa guru yang dulunya mencemoohnya, kini mulai mendukungnya. Tak ada lagi guru yang bermalas-malasan datang siang, semua datang pagi tepat jam 7. Penarik perahu yang dulu sering mengerjainya, bahkan kini sangat baik padanya. Suatu ketika saat Mansyur ingin berangkat ke Kota, sang penarik perahu memanggil dan menawari untuk mengantarnya. Ketika sampai di tujuan dan Mansyur mau membayar, sang penarik perahu menolak “gratis saja pak guru !” ujarnya sembari menarik sampannya kembali ke sungai. Mansyur melongo bengong.

Usut punya usut, ternyata sang bapak penarik perahu adalah orang tua dari salah satu muridnya. Anaknya sering bercerita tentang kebaikan dan ketulusan Pak Guru Mansyur di sekolah, sehingga membuat sang bapak terenyuh. Maka inilah bentuk  permintaan maaf dan rasa terima kasih sang bapak ke pada pak Guru, ia memberikan pelayanan kepada pak guru dengan mengantarnya ke kota tanpa imbalan.

Mansyur hanyalah salah satu dari ribuan pemuda Indonesia yang menginspirasi orang lain melalui perilaku kehidupannya. Mansyur mampu menginspirasi orang lain untuk berbuat dan menjadi lebih baik, karena ia pun selalu berupaya mencari inspirasi dalam setiap aktivitasnya. Ia tidak pernah berhenti untuk berinteraksi secara positif dengan orang-orang dan alam di sekitarnya, tak lupa juga berinteraksi dengan Tuhannya.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

One thought on “Ispirare La Riflessione …

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s