istimewa

Menanam Cinta


Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta.
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya.
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur,
Cita sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan.

(Anna Althafunnisa – KCB)

~

Pagi itu menjadi semakin cerah, kala senyummu merekah, menyambut kedatangan kami dengan penuh sumringah. Oma… senyumanmu begitu menggoda. Menggoda jiwa-jiwa muda ini untuk bermain bersama, berbagi canda, tawa, dan ceria.

Belum kami siap untuk memulai acara, kalian sudah duduk rapi di kursi-kursi yang telah disediakan. Mungkin dengan sedikit penasaran, bertanya-tanya dalam hati. “mau apa anak-anak muda ini ?”
Namun dengan kebijaksanaanmu yang telah teruji, kau tetap rela kami repotkan, menunggu dengan sabar di kursi-kursi di bawah tenda yang teduh itu, meski badanmu lelah dan ingin segera berbaring.

Sampai pada waktunya, pukul 07.30 acara dimulai. Kami ucapkan terima kasih kembali, Oma… kau tetap ikhlas, antusias mengikuti satu persatu acara yang kami bawakan, antusias berjingkrang-jingkrak mengikuti alunan musik yang kami putarkan, antusias menanam primordial-primordia hortikultura di atas rak media vertikultur yang kami hadirkan.

DSC_0167 DSC_0656

Sebuah kebanggaan bisa bertemu dengan oma-oma hebat sepanjang zaman. Mungkin kami tidak banyak tahu dengan latar belakang keluargamu, tentang masalah yang pernah kau hadapi selama hidupmu, tentang depresi dan penyakitmu. Yang kami tahu, hari ini kau menjadi rembulan, rembulan yang menampakkan sisi terangmu kepada kami semua. Rembulan yang memberikan sinar yang mencerahkan, yang menunjukkan keikhlasan dan kesabaran, yang menunjukkan kecantikan.

Terdengar semangatmu menyala, menggemakan tepuk lansia :
“prok…prok…prok… sehat,
“prok…prok…prok… kuat,
“prok…prok…prok… cantik !

Yup, kau memang tetap cantik oma.
Kini kami menjadi tahu, bahwa kecantikan itu abadi.
Kecantikanmu adalah kecantikan seorang ibu tak lekang oleh waktu.
Engkau adalah ibu kami. Ibu yang senantiasa mendoakan kami, ibu yang senantiasa mecintai kami, ibu yang senantiasa menyediakan surga untuk kami dibawah kakimu yang menawan.

Bangga kami bisa berinteraksi denganmu oma. Menanam kebaikan, menanam ketulusan, menanam cinta. Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik untukmu oma.

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s