kontemplasi

Contemplatio


Sabar, mungkin aku perlu belajar banyak tentang hal yang satu ini. Entah kenapa beberapa bulan terakhir ini emosiku seperti sulit terkontrol. Ibarat padang ilalang kering, ia mudah sekali terbakar api ketika ditimpa panas terik. Dampaknya juga sistemik, bisa membakar apa saja yang ada di sekitarnya.

Entah anugerah atau musibah, kedewasaanku sepertinya tengah diuji. Bagaimana menanggapi sesuatu dengan cara yang benar dan tepat. Sayangnya sepertinya aku masih harus lebih banyak belajar tentang hal yang satu ini.

Sejatinya, usia 23 tahun bukanlah waktu yang sedikit, tapi sudahkan aku banyak belajar ? sudahkah aku benar-benar memaknai hidup ini sebagai arena pembelajaran ? adakah aku sudah meresapi nilai-nilai kehidupan yang aku jalani sebagai peningkat kapasitas jiwa dan cakrawalaku ?

Kematangan seseorang dalam hidup berbeda-beda, ada yang di usia muda, dia telah mampu bertindak sebagaimana orang dewasa bertindak, sebaliknya ada yang di usia tua masih bersikap kekanak-kanakan. Terkadang aku suka merenung, mungkin aku termasuk yang kedua.

Dalam pelajaran genetika, aku selalu diajarkan bahwa F = G+E, Fenotipe atau performance adalah hasil antara interaksi genotip (sesuatu yang tersirat) dengan lingkungannya. Secara ideal, genotip dan lingkungan memiliki fungsi linear dalam menentukan Fenotip. Tapi pada realitanya lingkunganlah yang memberikan pengaruh paling besar terhadap terbentuknya Fenotip. Genotip lebih bersifat fix karena ia adalah bawaan atau sesuatu yang given. Oleh karena itu, hal yang paling realistis dilakukan untuk meningkatkan performance adalah dengan memperbaiki keadaan lingkungan.

Tugas manusia terkadang menjadi lebih berat, karena ia sendiri yang memiliki Genotip, dan ia sendiri pula yang harus mengkondisikan lingkungannya. Padahal sejatinya hal tersebut bisa dipermudah dengan cara mengkondisikan lingkungan bersama-sama dengan manusia lainnya karena ‘katanya’ manusia itu makhluk sosial. Sayangnya lebih banyak yang memilih untuk sendiri dan akhirnya malah terkondisikan oleh lingkungan, bahkan terkena penyakit akut karena merasa dirinya telah mengkondisikan.

Semoga penjelasan yang rumit diatas bukan menjadi suatu pembelaan terhadap hal-hal kontroversial yang seringkali aku lakukan. Semoga juga tidak menjadi pembelaan terhadap sifat ketidak-sabaran yang masih sering muncul dalam menjalani kehidupan. Semoga, semoga, dan semoga. Semoga tiap keinginan hamba yang nista ini untuk menjadi lebih baik di ijabah dan dipermudah.

“Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi aladdinika, wa’alaa thooatik.”

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s