peristiwa

SAMPAI AKHIR MENUTUP MATA (Eyang Putri in memorian)


Eyang Putri

Lebaran Idul Fitri tahun ini menjadi lebaran terakhir bagi Eyang Putri tercinta (Hj Soejinah binti Harjo Diwiryo). Allah sungguh mencintainya. Empat hari setelah Idul Fitri, Allah memanggilnya, tepat hari Jum’at tanggal 1 Agustus 2014 pukul 11:41 menjelang Adzan shalat Jum’at.

Pagi itu aku dan Bapak rencananya akan berangkat ke Bogor untuk mencari bibit jambu kristal. Saat aku sedang sarapan pagi, mama tiba-tiba duduk menghampiri. “Eyang kondisinya makin buruk, tolong didoakan ya…” ujarnya. Suasana tiba-tiba hening, rencana ke Bogor mendadak dibatalkan. Aku pun diminta untuk menghubungi nenek di Palembang dan keluarga lainnya untuk mengabarkan kondisi eyang.

Pukul 9.00, satu persatu keluarga: pakde, bude, om, tante berdatangan melihat kondisi eyang. Sekitar jam 9.30 eyang bangun dan memanggil kami semua untuk bersalaman dengannya. Tiba giliranku, aku pun mencium tangan dan pipinya. “kalau aku pergi jangan ditangisi ya…” pesan terakhir yang eyang ucapkan. “iya eyang… Insyaallah kita bakal ketemu lagi.” Jawabku.

Tetangga terdekat pun satu persatu berdatangan untuk menjenguk dan bersalaman dengan eyang. Iya sesekali tersenyum bahkan masih sempat bercanda. Setelah semua bersalaman, eyang kembali beristirahat sambil tetap didampingi oleh beberapa anggota keluarga guna terus melafalkan kalimat Allah.

Pukul 11.30, saat speaker masjid mulai melantunkan ayat suci Al Quran (saat itu tengah membaca surat Al Baqarah), kondisi eyang makin menurun, nafasnya mulai terengah-engah. Kami sekeluarga besar berkumpul menemani eyang sambil terus berdzikir dan ikut melantunkan ayat suci Al Quran. Sepuluh menit berselang, masih dalam lantunan surat Al Baqarah, Malaikat Jibril dan Izrail datang menjemput Eyang Putri. “Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun”. Kukecup kening beliau untuk terakhir kalinya.

Allahu Akbar Allahu Akbar…” Adzan shalat Jum’at berkumandang, kaum laki-laki berangkat ke masjid. Tema khutbah Jum’at hari itu masih tentang suasana syawal. Tentang kebahagiaan hari kemenangan. Hmm semoga hari Juma’t itu juga menjadi hari kemenangan bagi Eyang Putri. Kemenangannya atas kefanaan dunia.

Setelah shalat Jum’at, jenazah Eyang Putri dimandikan dan dikafani. Wajahnya tampak cerah berseri. Mungkin saat ini ruhnya sedang tersenyum bersama Malaikat Jibril. Lepas Ashar, jenazah Eyang Putri dibawa ke masjid depan rumah. Ramai jamaah yang menshalatkan beliau, mungkin sekitar 40 orang, setengah masjid itu tampak penuh. Subhanallah…

Hari semakin senja, tiba saatnya Eyang Putri diantarkan ke peristirahatan terakhirnya di TPU Tanah Kusir. Ini pertama kalinya aku ikut membantu pemakaman anggota keluargaku terdekatku setelah sebelumnya tak sempat menghadiri proses pemakaman Nenek Ndut dan Eyang Kakung. Satu jam berlalu, tanah telah ditutup dan bunga telah ditaburkan. Pak Ustadz Maulana memimpin doa sebelum kami meninggalkan pemakaman senja itu.

Allahumma firlaha wa afiha wa’fuanha… Ya Allah jadikanlah beliau bagian dari orang-orang yang shaleh dan engkau rahmati.

~love you Eyang Putri~

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s