istimewa

Sang Penjahit Sepatu


image

Siang itu, aku berniat memperbaiki sepatu gunung pinjaman yang terkoyak alasnya. Sayangnya menunggu tukang sol sepatu keliling di komplek untuk saat ini bukan hal yang mudah. Tukang sol sepatu saat ini mungkin lebih memilih mangkal di ‘counter’nya menunggu kustomer datang dan memakai jasanya. Kalau sudah begini jelas pasar 16 solusinya. ‘Counter’ terlengkap yang menjual berbagai produk dan jasa, pun jasa sol sepatu.

Namanya Sarofi, bapak satu anak yang tinggal di daerah Tanggo Buntung ini sudah 7 tahun lebih berprofesi sebagi pengesol sepatu di pinggiran pasar 16 ilir, depan Masjid Agung Palembang. Sudah  biasa, ia pun tiap hari jalan kaki PP dari pasar 16 ilir (Masjid Agung) ke Tangga Buntung. Pak Sarofi memiliki tampilan sederhana berbeda dengan para pedagang lain disekitarnya, ia menggunakan baju berwarna kusam dan ciri khasnya, topi caping berbahan koran sebagai alat pelindung dari terik matahari.

Awalnya hanya ingin berbincang ringan dengan Pak Sarofi, tentang pekerjaannya, tentang keluarganya, sembari menunggu pak Sarofi menyelesaikan pekerjaannya, menjahit sepatu.

Satu dua pertanyaan ringan aku ajukan, mungkin karena senangnya, dengan logat khas Palembang yang ceplas-ceplos Pak Sarofi bercerita panjang lebar tentang kehidupannya, tentang ke’premanan’nya jaman dahulu, sampai tentang santet dan guna-guna yang dialaminya. haha… (tutup kuping)

Pun dia bercerita tentang sakit yang menimpanya. Tampak ada bengkak di pergelangan kakinya. katanya pernah ia berobat tapi karena tak mampu bayar dia ditelantarkan oleh petugas. “Dipermainkan” ujarnya, ujung-ujungnya duit.

Sejenak aku teringat dengan program berobat Gratis dari Pemprov Sumsel, Apa mungkin sudah tepat sasaran ya…? Masak iya sang bapak yang bertahun-tahun mencari penghidupan di pinggir mesjid agung ini belum mendapat perhatian ? atau bisa jadi Pak Sarofi malas mendaftar karena kesibukkannya. Wallahi…

Kalo mendengar semua cerita Pak Sarofi pasti bikin miris. Namun bukan disitu esensinya. Semangat yang ia bangun dan mulai kerja dari jam 7.00 hingga jam 17.00 meski penghasilan tak seberapa, adalah pembelajaran berharga bahwa berusaha adalah “harga mati”. Selain itu, dengan melihat kondisi pak Sarofi yang seadanya ini, kita jadi sadar bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung dibandingkan kita, masih banyak orang yang perlu kita bantu. Minimal dengan menjadi pendengar setia cerita-ceritanya tanpa memberikan janji-janji surga, minimal membantunya lewat doa-doa kita.

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s