istimewa · kebun

Palembang Berkebun Kenapa ?


Dua tahun yang lalu, pertama kali aku mengenal komunitas ini. Palembang Berkebun. Namanya terdengar lucu, apalagi karena keberadaannya yang di tengah kota. Bagi orang awam, mungkin terdengar seperti komunitas kurang kerjaan. “Ngapain sih berkebun di kota ? berkebun ya di desa !” itu yang pernah kudengar dari salah seorang saudara.

Lain kata kalau yang disebut komunitas urban farming, persepsi orang akan lebih ‘wah’. Padahal sejatinya sama saja. Palembang Berkebun ya komunitas urban farming, namun dikemas dalam nama yang lebih sederhana, jauh dari kesan glamour dan mewah, biar bisa menjangkau semua ranah. Besar, kecil, tua, muda, semua ada.

Awalnya karena kesamaan ide dan visi yang membuat aku jatuh hati dengan komunitas ini. Meski belum punya sekre dan program kerja seperti organisasi, tapi pasti selalu punya aksi. Ini yang bikin jadi semangat tinggi. Lambat laun, dari hati yang jatuh, tiba-tiba ia mulai tumbuh. Seperti benih, ia berkecambah dan menumbuhkan akarnya, batangnya, daunnya, terus membesar hingga saat ini.

Dalam komunitas ini bukan melulu berkebun yang aku dapat. Tapi juga ‘cinta’ #eaaa suit suit..!! iyaa dong… cinta yang tumbuh karena semangat kekeluargaan, kebersamaan, toleransi, sikap tolong menolong, dan keterbukaan. Beruntung aku bisa bertemu dengan teman-teman yang hebat di komunitas ini. Mau disebutin satu-satu kah ? gak perlu ya, hehe…

Sebuah komunitas tak akan besar tanpa kecintaan para anggotanya, Palembang Berkebun aku ibaratkan sebuah pohon. Setiap anggotanya adalah komponen penyusun pohon ini. Ada yang menjadi akar yang mengokohkan, batang yang menguatkan, daun yang menaungi, serta bunga yang mengindahkan #uhuii. Kalo aku mungkin cuma jadi getahnya. Semua bahu membahu sesuai perannya masing-masing untuk menumbuh dan besarkan pohon komunitas ini. Terkadang ada buah (karya) manis yang dihasilkan, meskipun seringkali orang lain yang menikmati, tapi no problemo… disitulah kemanfaatan.

Sekarang Palembang Berkebun sudah berusia 2 tahun. Kalo manusia, mungkin masih dianggap bayi. Tapi kalo pohon buah-buahan, harusnya sudah mulai masuk panen perdana. Yeah… apapun perumpamaannya, jika masih dianggap muda maka harus terus belajar, jika sudah dianggap dewasa harus bisa memberi karya. Semoga Palembang Berkebun bisa menjalani keduanya bersama. Terus belajar dan berkarya.

PalembangBerkebun

Selamat Ulang Tahun Palembang Berkebun. Semoga kecintaan ini tetap kekal abadi sampai di surga nanti, meskipun… si dia sudah berpaling ke lain hati #tsaah😛

Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Berkebun ! #2ndPlbBerkebun

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s