adventure · istimewa · travelling

MENDAKI ANGKASA : Journey to Dempo (Part 1)


Bermula dari obrolan santai di sebuah cafe, entah apa yang membuat lidahku tergerak untuk memutuskan ikut dalam rencana hebat itu. “Aku ikut ya.” ujarku sayup-sayup saat yang lain tengah asik membahas apa saja yang perlu dipersiapkan dalam rencana perjalanan itu.

Sebagai seorang follower dan newbie dalam perjalanan ini, aku ikut saja dengan arahan tim. Semua perbekalan dan perlengkapan dipersiapkan. Rumah reotku jadi markas sementara tempat menumpuk amunisi-amunisi yang akan dibawa.

Singkat cerita, jadilah 8 orang yang fix berangkat menuju Pagaralam pada sore Jum’at, 24 Oktober 2014. Bus tua mulai meraungkan mesinnya. Meski tampak tak lagi segar, kaki-kakinya masih kuat menapak aspal dan memutar roda-roda di jalanan yang tampak padat kendaraan berlalu lalang.

Matahari mulai bersembunyi di ujung bumi, jalanan pun mulai lengang. Bukannya menambah kecepatan, sang supir malah tampak santai memainkan kemudinya, 60 km/jam kulihat speedometer bergerak di depan pak supir. “Alamak lambat kali jalannya !” mungkin kalau orang Medan sudah berteriak-teriak kesal. Perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu 7 jam jadi terasa lama, karena pengap asap rokok dan rembesan air hujan yang masuk lewat sela-sela badan bus.

Tepat tengah malam, akhirnya kami sampai di kota perjuangan, Pagaralam. Nuansa dingin khas daerah pegunungan sedikit terasa menyentuh kulit. Namun tak sedingin sepuluh tahun lalu, maklum saja. Sudah banyak pembangunan di kota ini yang mengganti pohon kayu dengan pohon beton.

Setelah turun dari Bus, kami berjalan sedikit ke rumah singgah, langgar Al Qonaah, tempat tinggal nenek yang meneduhkan, untuk beristirahat, melepas lelah, melepas penat perjalanan.

Pendakian Pertama

Kokok ayam jantan mulai terdengar. Ayam di sini rajin sekali, subuh saja belum tapi dia sudah bangun. Karena tak mau malu dengan ayam, jadilah aku ikut bangun. Satu hal yang aku syukuri, jika berada di tempat lain aku selalu bisa bangun paling awal, berbeda jika tidur di kamar sendiri, bahkan alarm menyala pun tak digubris. Mungkin karena gengsi dengan kawan, atau malu dengan tuan rumah.

Jam 6.30 mobil pickup sudah siap untuk mengantar kami ke pintu pendakian utama.

 

pickup

Aroma embun pagi mulai tercium sejak pertama mobil melaju. Angin yang berhembus awalnya menyenangkan, namun perlahan menusuk permukaan kulit kami dan membuat kami harus merapatkan jaket dan sarung tangan. ‘Hawa naga’ alias uap panas yang berhembus dari mulut mulai tampak ketika mobil melaju semakin jauh, semakin tinggi, mendekati batas akhir jalan aspal, Pintu Rimau.

Pintu rimau terletak di ketinggian 1820 mdpl. Inilah start awal pendakian Dempo. Setelah briefing dan poto-poto sejenak, langkah pertama pun di ayunkan. Perasaan senang, cemas, dan harap bercampur melahirkan sebuah pertanyaan. “Mampukan aku sampai di puncaknya ?”

rimau

Perjalanan dimulai, satu-persatu langkah menapaki jalanan menanjak yang penuh batu dan akar pohon. Awal yang kuat diiringi dengan lantunan lagu penyemangat, sesekali teriak-teriakan kebahagiaan bersahutan pun turut menyemangati.

mendaki gunung

Semakin jauh kaki menjejak, semakin tinggi topografi, semakin dingin menyeruak. Oksigen tak banyak lagi, menyisakan nafas yang memburu satu-satu. Lelah, penat, dan keringat dingin berpadu menghasilkan nuansa yang tak nyaman. Vertikal limit !!. Ada imaji yang membisik-bisik halus di pikiran. “menyerah saja-menyerah saja.” Ujarnya.

lelah

Dalam situasi ini tak banyak hal yang bisa dilakukan. Hanya dzikir dalam hati dan keyakinan yang kuat yang bisa menangani. Meski wajah terlihat pucat, langkah kaki mulai tak kuat, namun semangat harus tetap melekat.

Pada kondisi ini, setiap individu dalam tim yang mendaki menjalani ujiannya. Egonya ataukah kepeduliannya yang lebih akan terlihat. Benarlah kata seorang bijak “Manusia itu diuji pada saat titik terendahnya.” Mungkin termasuk aku yang akhirnya menunjukkan sifat asli yang menyusahkan teman-temanku.

Setiap kita memiliki sisinya masing-masing yang unik dan menarik. Banyak hal yang tadinya aku tak paham tentang mereka, kini aku sedikit mengerti. Banyak pengalaman menguras emosi terjadi selama perjalanan, ya… seperti kita menonton telenovela. Ada kejadian kawan yang terus saja mengeluh selama perjalanan, ada yang sakit tapi diam saja, ada yang menyebalkan karena sok perhatian dan terus menerus mengatur, ada yang bersemangat untuk berada paling depan meski telah sangat lelah, ada yang ditampar karena hampir menyerah, bahkan ada yang hampir pingsan karena kehabisan energi.limit

Meskipun penuh emosi, tak ada dendam diantara kami. Disinilah kami diharapkan untuk bisa mengerti berbagai sifat dan karakter sahabat, sehingga mampu menerimanya apa adanya. Begitulah, benar kata Umar bin Khatab, perjalanan memang merupakan cara efektif untuk saling mengenal seseorang lebih dalam.

Setelah melalui hampir 6 jam berjalan kaki, akhirnya sampai juga kami di puncak Dempo 3,159 mdpl. Ternyata, masih ada waktu sekitar setengah jam perjalanan lagi untuk sampai ke ‘Pelataran’ padang luas tempat kami bisa mendirikan tenda. Jalannya tak lagi terjal, hanya datar dan menurun. Masih dalam suasana kabut yang pekat dan hawa dingin yang menusuk, aku berjalan gontai menuju Pelataran. Wajahku saat itu sudah pucat pasi, bibir membiru, dan tangan serasa beku.

Tiba di Pelataran jam 14.30, kami disambut seruan peluit dan teriakan pendaki lain yang sudah lebih dulu sampai. “welcome to Dempo.” Seketika secuil semangat tumbuh kembali, ditemani sang matahari yang mulai meninggi, menghangatkan tubuh yang sangat membutuhkan energi. Hmmh… terpaan matahari membuatku serasa berfotosintesis. Setelah istirahat sebentar, kami mencari tempat terbaik untuk membangun tenda tentunya yang aman dari aliran air dan terpaan angin.

Setiap anggota tim berbagi tugas, ada yang membangun tenda, ada yang mencari air dan memasak. Aku ikut membantu membangun tenda. Setelah tenda tegak berdiri, aku masuk ke dalam dan kemudian entah apa yang terjadi, aku hilang kesadaran… (bersambung)

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s