adventure · istimewa

MENDAKI ANGKASA : Journey to Dempo (Part 2)


Waktu telah menunjukkan pukul 17.30 aku terbangun dari lelapku. Saat itu kepala pusing dan perut terasa mual, kusempatkan sejenak untuk sholat Dzuhur dan Ashar. Tak berapa lama, datang seorang sahabat yang baik menggosok punggungku, beberapa obat ia keluarkan untukku.

masak

Beberapa sahabat lainnya terlihat sedang memasak untuk persiapan makan sore itu. Aku diijinkan untuk makan duluan.

Baru sejenak menghabiskan makanan, makanan yang baru saja masuk itu kemudian keluar lagi. Sepertinya sedang terjadi penormalan proses metabolisme. Semua racun yang ada di dalam tubuhku dikeluarkan. Pasca keluarnya makanan tadi, tubuh mulai terasa lebih baik. Aku kembali terlelap.

Pukul 19.30 gerimis terdengar dari dalam tenda. Aku memicingkan mata menatap keluar tenda, kulihat beberapa teman sedang memasak dan berbincang. Tak jelas apa yang mereka bicarakan mungkin sedang bercerita tentang perjalanan hari ini. Aku keluar dari dalam tenda, “Sudah sehat kak ?” tanya salah satu dari mereka. Alhamdulillah, aku terasa seperti terlahir kembali. Support teman-teman sore tadi di saat aku berada di titik terlemah, telah memberikanku kekuatan malam ini.

malam

Menikmati malam di puncak gunung merupakan peristiwa yang sangat jarang dilalui. Meskipun hujan gerimis, malam itu tetap terasa hangat karena ikatan persahabatan, dan secangkir jahe panas yang dinikmati bergantian.

badai

Badai dan Pengorbanan

Pukul 21.00 hujan semakin deras. Kami memutuskan untuk masuk ke dalam tenda masing-masing untuk berlindung dari guyuran hujan dan terpaan angin yang kian kencang. Di dalam tenda kami yang berisi empat orang, bergerak pun sulit, maka tak banyak yang bisa kami lakukan malam itu. setelah mengobrol sejenak kami pun terlelap diiringi senandung hujan.

Pukul 23.00 aku terbangun mendengar keributan di luar tenda. Suara teriakan ketakutan saling bersahutan. “Badai-badai !” teriak salah seorang dari mereka. Ada pula suara isakan, tangisan, dan gemeretak gigi yang kedinginan. Ada apa gerangan ? pikirku daam hati. Masih dalam keadaan setengah sadar, aku baru menyadari bahwa malam itu ada badai ketika selintas angin kencang mengetuk-ngetuk tenda kecil kami.  Masyaallah, tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaan orang-orang yang tendanya diporak-porandakan oleh badai. Sebagian besar pendaki yang datang ke Dempo memang penduduk setempat yang tidak mempunyai persiapan khusus dalam mendaki, tenda mereka hanya terpal seadanya, sangat tidak siap jika menghadapi badai yang cukup besar.

Deg-deg-deg… terdengar seorang anak mengetuk pintu tenda kami. “Kak, maseh ade tempat dak kame nak masuk, dingin nian..” aku terhening dan perlahan berbincang dengan sahabat disampingku yang juga terbangun. “Cakmano ?” ujarku setengah berbisik (menggunakan bahasa Palembang). “Jangan, dak muat.” Ujarnya sambil memberi kode. Lagipula terlalu riskan pada kondisi malam dan badai seperti ini memberikan ruang privasi kami kepada orang yang tak dikenal. Setelah dipikirkan kami putuskan untuk membantu memberikan air dan makanan yang ada di dalam untuk orang-orang yang diluar sembari memohon maaf.

Malam itu sungguh aku tak bisa tidur sampai badai berlalu. Tetiba, aku terpikir si Melda, sepupu jauh yang kutemui saat perjalanan mendaki tadi. Dia sampai lebih dulu di puncak. Aku merasa sangat cemas, apakah ia aman dari badai malam itu ? Semoga Allah melindunginya.

Pukul 01.00 keesokan harinya hujan badai mulai reda, barulah mata bisa kupenjamkan lagi. Belum lama aku terlelap, terdengar suara meringis seorang sahabat di dalam tendaku. Perutnya sakit seperti ditinju. ‘tesenep’ bahasa Palembangnya. Kemudian sahabatku satunya pun ikut meringis, kakinya terasa sakit tak terkira, lelah akibat pendakian kali pertama. Jadilah kami yang masih dalam keadaan sehat menjadi dokter dadakan malam itu. *Praktek pengobatan rahasia~ setelah keduanya teratasi barulah kami bisa kembali ke peraduan.

Pukul 02.30 mataku kembali terbuka, seperti ada yang bergetar di atas kakiku, kali ini terdengar suara gemeretak gigi disamping telinga kiriku. Sahabatku yang dari tadi selalu terlihat bersemangat ternyata gantian menggigil juga. Mungkin ia kedinginan, ia rela tidur di bagian paling pinggir pintu yang ternyata bocor terkena hujan. Sleeping bagnya terasa basah. “Bro, bangun kenapa lu ? minum tolak angin gih ” ujarku. “Ðak papo kok.” jawabnya santai sambil mencari dan meminum tolak angin untuk menghangatkan tubuhnya. Aku salut padanya, Ia selalu tenang selama perjalanan. Tak pernah menunjukkan kelelahan maupun sakitnya… (bersambung)

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s