adventure · istimewa

MENDAKI ANGKASA : Journey to Dempo (Part 3)


I have died everyday waiting for you … “

suara alarm berbunyi menunjukkan pukul 04.30 pagi.

Bau embun tercium sejuk dari balik pintu tenda. Tak sabar untuk segera keluar. Udara masih dingin teramat sangat, pun sisa hujan masih meninggalkan basah di tempat kami menjejak. Setelah bersiap memakai jaket lengkap, sarung tangan, sepatu, dan topi kupluk, kuberanikan melangkahkan kaki keluar tenda di saat yang lain masih terlelap. Bukan sekedar karena embun pagi yang menyejukkan tapi juga karena panggilan alam yang rutin menyapa tiap subuh menjelang.

Kali pertama tubuh berdiri tegak diluar tenda pagi itu, ada kepuasan yang dirasa, ketakjuban yang tampak. Ribuan bintang bersusun membentuk berbagai rasi bintang di langit malam yang cerah.

Saatnya mengeksplorasi fajar, kuhidupkan headlamp dan mulai menatap sekitar. Dedaunan terlihat membeku terbungkus kristal es. Masyaallah… artinya suhu di dempo malam itu mencapai minus derajat celcius. Aku ingat pelajaran SD kalau tidak salah titik beku air itu berada di nol derajat celcius.

Sambil menunggu fajar menyingsing, kusempatkan untuk berputar-putar sejenak di sekitar camp kami, pun saling menyapa dengan para pendaki lain yang kemarin tak sempat aku lakukan karena terlanjur tepar.

Tamu Istimewa

Adzan sahut-sahutan berkumandang, kami pun turut melantunkannya. Setelah selesai shalat shubuh kami bersiap memasak untuk sarapan pagi itu. Saat tengah sibuk menghidupkan api, dari kejauhan sayp-sayup terlihat seorang bapak berjalan gontai. Ia baru sampai di puncak pagi ini. Artinya, tadi malam ia terjebak badai di perjalanan. Wajahnya tampak pucat, kedinginan bercampur lelah.

Ia terlihat sendirian, sambil memberinya air hangat dan sarung tangan kami mengajaknya berbincang. “dimana kawan-kawannya pak ?” tanya seorang sahabatku. “masih di atas, ada sepuluh orang.” Ujarnya. Kami biarkan ia sejenak beristirahat di dekat perapian, sambil menunggu kawan-kawannya turun.

Seiring naiknya matahari, kawan-kawan sang bapak baru terlihat sampai di Pelataran, wajah-wajah yang tampak sangat kelelahan dan tak berdaya. Kami persilakan mereka untuk singgah ke camp kami untuk sekedar menghangatkkan diri. Sekedar mengeringkan tangan di atas perapian.

Setelah berlangsung agak lama, aku perhatikan ada yang aneh dari rombongan ini. Mereka bukannya segera membangun tenda tapi malah berjemur dan berleha-leha. Ada dari mereka yang minta air hangat berulang kali bahkan untuk masak Pop Mie. Padahal, untuk sarapan tim kami sendiri pun masih belum jadi. Aku tahu mereka kedinginan tapi bukan begini caranya, menghangatkan diri dengan menyusahkan orang lain. Maka dengan tidak mengurangi rasa hormat, aku minta rombongan bapak-bapak yang terhormat ini agar menarik diri, boleh untuk ‘menikmati’ fasilitas camp tetangga tapi asal sadar diri. Akhirnya mereka pun kembali ke kelompoknya dan ‘mencari suaka’ ke camp lain. Ada dua orang ibu dari rombongan mereka yang akhirnya kami tampung untuk sekedar beistirahat di tenda menghangatkan tubuh.

Mendaki Angkasa

Setelah selesai sarapan dan segala urusan dengan tamu istimewa pagi itu beres, kami putuskan untuk mendaki ke kawah gunung dempo, atau yang lebih dikenal sebagai puncak merapi. Perjalanan ke puncak kawah dari pelataran memakan waktu sekitar 20 menit dengan kemiringan lereng mencapai 45 derajat. Sempat terjadi perdebatan dalam kelompok kami apakah harus semua naik ke puncak, karena ternyata ada yang sudah naik ke puncak kawah duluan kemarin sore.

Ya… setiap orang pasti punya pilihan. Tapi Alhamdulillah akhirnya pagi itu kami semua naik ke puncak merapi bersama-sama.

ndaki

Meskipun perasaanku tak lagi sama seperti saat pertama melangkahkan kaki di pintu rimau, aku bersyukur masih bisa diberikan kekuatan untuk berjalan dari Pelataran untuk mencapai puncak tertinggi di Sumatera Selatan ini.

 

Inilah puncak dempo 3,159 mdpl.

kawah

puncak

Tak ada kata yang bisa aku ucapkan untuk menggambarkan perasaan yang bercampur aduk di puncak dempo pagi itu.

puncak2

Setelah cukup berfoto dan mensyukuri pencapaian kami hari itu, kami kembali turun ke pelataran.

Sesampai di camp kami berbenah untuk persiapan turun gunung. Sembari memetik buah arbei yang tumbuh di sekitar camp untuk cemilan di perjalanan kami rapikan tenda dan semua perlengkapan.

dempo

Sampai jumpa Dempo.

pulang

*Banyak hal yang berubah dalam hidupku pasca turun dari Dempo. Semoga bisa lebih memberi arti dalam memaknai perjalanan hidup

jangan lupa ninggalin komennya ya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s